Sabtu, 23 Februari 2013

Hanya ingin Pulang

Sudah lama ya aku tak mengunjungi mu lagiiiii...
Aku, si penulis blog yang tak bisa konsisten
Aku yang selalu menelantarkan
Meninggalkan sendiri
Tak mempedulikan

Sekarang, aku sendiri
Semua berubah sunyi
Semua pergi
Pulang
Berkumpul

Perjuangan meuju rumah, mengantarkanku kembali ke tempat ini
Kostan
Tempat
Ini

Setidaknya, dengan pengalaman kemarin aku tahu
"Bus terakhir tujuan Solok, pukul 18.00"
Bukan, bukan itu yang ingin aku ketikan

Tapi...

"Ngga ada yang kebetulan", semua telah digariskan, semua telah ditakdirkan. :D

***

Kemarin sore, setelah mengadakan rapat sosprologi aku di telpon bapak.
Tiba-tiba terbersit keinginan untuk pulang (2 minggu ngga pulang). Dan bapak setuju. Padahal beberapa menit lagi adzan magrib berkumandang.
Segera aku menuju kost, mengangkat jemuran yang banyaknya hampir menciptakan bukit lokal (cucian seminggu+pakaian tetangga).
Packing, mengganti tas bahu dengan ransel.
Tanpa ganti baju, pakaian dinas dan sepatu pantofel aku berangkat ke terminal.

Terminal sepi, bus bukittinggi tujuan solok tak terlihat lagi.
Satu hal yang harus aku lakukan, "Bertanya".
Pepatah bilang, "malu bertanya, sesat di jalan". Karna ngga mau jalan-jalan. Eh, maksudnya tersesat (ngga bisa pulang), aku bertanya pada ibu-ibu yang terlihat.

Eeeeee,,, si ibu juga ngga tau.
Untungnya, aku bertemu seorang pemuda dengan tujuan yang sama.
Dan akhirnya, kita mencari celah agar menemukan bus.

Taraaaaaaa,,,, tiba-tiba ketemu Dila.
"Mbaaaaakkkk"
*slow motion menoleh
"aaaaaa,,,, dilaaaa"
Dila menghilang, langsung naik bus.

Kiri-kanan-kiri-kanan, kami terus berjalan. Wuuuuuuiihhhhh,,,, akhirnya ketemu. Gelap berubah terang rasanya, matahari muncul. Dan tiba-tiba tenggelam lagi. Sang sopir hanya melambaikan tangan pada kami. Bus pertama yang terlihat dimata kami berlalu pergi.

Kami meneruskan perjalanan.
Kakiku melambaikan tangan pada mata kamera.
Tak kuat, ia kesakitan.
Hak sepatu setinggi 7 centi, membuat si kaki tak kuat berlama-lama jalan lagi.
Dari pagi hingga malam ini, selalu bersama si hak 7 centi.

Kasihan, aku naik angkot. Tentu mengajak si pemuda satu tujuan.
Kita berkenalan. (kenalan setelah beberapa jam melakukan perjalanan)
Rahmat namanya. Mahasiswa semester IV Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri. Dan tinggal di Sumani.
Kalau dari Bukit, 30 menit lebih dulu dari pada rumahku.

Jambu Aia, sampailah kami ditujuan berikutnya.
Kembali menunggu bus.
Bapak-bapak paruh baya mendekat. 2 orang.
Menanyakan tujuan kami.
Menelpon kantor bus untuk memastikan kami bisa pulang atau tidak.

Tiba-tiba, cahaya itu muncul lagi. Bus solok-bukittinggi.!
Datang, berhenti, menumpahkan penumpang.
Rahmat menyebrang.
Bertanya pada supir.
Daaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnn "N-I-H-I-L"
Bus itu ngga balik ke Solok.
Suasana semakin suram, 2 bapak paruh baya mengabari kami.
Bus habis.
Angkutan umum menuju Kota Solok ngga ada lagi.
Silahkan pulang esok pagi.

Dengan lunglai, kami kembali.
Berpisah di persimpangan jalan.

Angkot bernomor punggung 14 telah menanti. Sang sopir bahagia mendapat penumpang lagi. Sakunya akan terisi.
Sedang aku, mulai berkaca-kaca berlinang air mata.
Perjalanan pulang yang mengharukan.
_Kembali ke Kost_

Rabu, 06 Februari 2013

Payo's Waterfal


3 hari setelah kepulanganku, aku diajak adik dan para sepupu untuk ikut ekpedisi negeri payo. Melihat air terjun yang ada disana. Sebelumnya, aku memang sudah pernah kesana. Waktu itu aku masih SMA. Kelas XII kalau ngga salah. Diajak rombongan yang ada disekitar tempat tinngalku + 3 orang teman dekatku. Bedanya, di tahun itu aku berjalan melewati jalur air yang memang medannya lumayan sulit karna harus terus jalan di air, banyak batu, lintah dan berisiko hanyut. Beruntung, yang hanyut hanya dompet dan bekal makanan bukan orangnya. Kalau datahun 2013 ini kami melewati jalur darat. Menempuh beberapa bukit (naik-turun bukit).
Perbedaan lainnya, kalau lewat jalur air kita hanya bisa melihat satu air terjun. Yaitu, air terjun paling bawah. Karna memang air terjunya itu tinggi sekali. Nah, kalau yang ditempuh adalah jalur darat yang mesti melewati beberapa Bukit, kita akan bisa menjajaki hampir semua tingkatan air terjun. Tapi tidak bisa ke dasar air terjun terakhir yang memang sangat tinggi. Ngga mungkin rasanya, turun ke dasar  air terjun ketujuh ini.
Kita berangkat jam 9 pagi. Di antar ibu dan bapak, kami akhirnya sampai ke daerah Payo. Sebelum berangkat, ibu telah merebuskan daun herbal untukku dan puja adikku. Kata ibu, biar kami kuat dan ngga ngos-ngosan.
Cantik sekali pemandangan dari daerah ini. Kita bisa lihat Kota Solok dari atas Bukit. Keseluruhan Danau Singkarak bisa terlihat jelas dari sini. Cuca cerah berawan.

Setelah pamitan, kami memulai petualangan.
Melewati perkebunan kunyit milik warga sekitar kemudian kami  masuk hutan.




Seperempat perjalanan hari mulai hujan. Medannya lumayan sulit karna basah dan licin. Banyak sekali jurang disini. Begitu juga dengan duri. Ada duri salak, duri jarek-jarek dan jenis duri lainnya.
Memang awalnya, aku mengunakan sepatu.Tetapi melihat anggota kelompok lain hanya mengunakan sandal seadanya akupun ikutan mengunakan sandal jepit (takut dibilang lebay). Padahal itu demi kebaikan. Harusnya aku tidak perlu malu jika menggunakan sepatu. Tapi sudah lah, itu sudah berlalu. Jadikan pengalaman saja untuk perjalanan berikutnya J
Becek, licin, penuh lumpur. Aku tidak bisa lagi menggunakan sandal jepit ini. Terpaksa aku bertelanjang kaki. Mau tidak mau, aku harus terima risiko. Hujan semakin lebat, beberapa orang meminta untuk istirahat. Akhirya, angku (pemandu) memberhentikan kami disebuah pohon besar. Sayang, ada yang jahil. Tidak sengaja dia mengusik keberadaan lebah disana. Kami terpaksa melarikan diri. Beberapa orang tersengat di telinga, tangan, kepala dan muka. Kasihan sekali.
Selama dua setengah jam kami hujan-hujanan. Semua basah kuyup dan kedinginan. Sebelum sampai ditujuan, kami harus menuruni tebing yang cukup terjal. Untuk turun kesana kami harus menggunakan tali dan berhati-hati dengan bebatuan yang akan jatuh menimpa kami. Rintangannya begitu berat. Kakiku mulai sakit akibat gesekan batu dan hempasannya. 
Berhasil melewati tebing itu kamipun disuguhkan keindahan air terjun di daerah ini (Sampai di air terjun ke-3).  Kami turun menuju air terjun ke dua dan memutuskan untuk makan dan menghangatkan badan disana. Lagi-lagi kami mesti melewati bebatuan. Meloncat-loncat seperti tupai, saling menjulurkan tangan memberi bantuan.


Membuat api, bikin kopi dan makan nasi. Itulah yang kami lakukan di air terjun ke-2. Membiarkan badan kering dengan sendirinya. Setelah berhasil melepas lelah, kami berjalan kembali menuju air terjun ke-3. Foto sebentar dan naik ke air terjun berikutnya. Begitu seterusnya hingga air tejun pertama. Memang dari air terjun ke air terjun  medannya beda, tapi kami menakhlukannya dengan hal sama. Mengunakan tali, manjat-memanjat, menjulurkan tangan untuk saling membantu.
Ternyata jalur darat ini jauh lebih sulit menurutku. Mungkin karna hari hujan yang menyebabkan jalan  licin. Bayangkan untuk pulang saja, aku sudah sangat lelah dan kesakitan. Beberapa kali aku terkena duri. Tidak hanya ditelapak kaki, pungung kakipun juga sampai terkena duri ini. Beberapa kali juga aku harus terjatuh. Sesekali aku terpaksa turun ala peseluncur.
Kami sampai kembali diperkebunan warga ketika magrib. Istirahat sebentar dan kembali makan. Membuat api, bikin kopi dan masak mie.

Kasihan ibu dan bapak. Beliau sudah sampai payo jam lima sore dan terpaksa harus menunggu beberapa jam. Setengah delapan kami sampai diperkampungan. Dan kembali pulang J
Pemandanagn dimalam hari juh lebih seru. Banyak lampu yang terlihat. Seperti bukit bintang. Solok begitu terang. Indah, sangat Indah.
Sayangnya, perjalanan kami ketika mulai memasuki hutan tidak bisa diabadikan. Kami focus dengan perjalanan, medan dan keselamatan kami.
Kabarnya, perjalanan kami masuk Koran. Salah satu dari kami membuat artikel dan mengirimkannya. Sayangnya aku belum lihat.
Seru.!
Oya, daerah ini juga ada Paralayangnya. Mbah bilang, beberapa minggu terakhir Payo sering mengadakan paralayang. Hampir setiap minggu sepertinya. Info lebih lanjut, datangi aja daerahnya. Hehehehehe

Selasa, 05 Februari 2013

Kucing


Dingin… dingin sekali..
Pagi ini aku sendiri, yatim piatu, tak kenal keluarga.
Aku hidup sendiri, begitu kedinginan diserbu angin. Mendung, pertanda hujan akan turun.
Didepan pintu sebuah rumah, aku mencari kehangatan pada sebuah keset kaki. Sesekali, pemilik rumah lalu lalang. Tak peduli. Tak menghiraukan. Sibuk sendiri.
Aku tak tahu sudah setinggi apa matahari waktu itu. Sebuah motor, datang menghampiri. Pemiliknya menghamipiri rumah ini, duduk diberanda. Dengan beberapa orang anak, dia mulai bercemgkrama, bermain, tertawa-tawa. Aku yang kedinginan, mendekati mereka. Mencari kehangatan diantara mereka. Tubuh-tubuh manusia. Aku, dipangku, di ajak bermain, digendong, ditertawakan.
Tak lama, seorang tua datang. Tua itu mengenakan gamis bercorak dedaunan. Hijau, kemuning, daun kering. Membawa tas, mengambil air yang berada di sebuah drom air. Bersiap pergi.
Si pemilik motor tadi mengangkatku, membawa akau bersamanya, mendudukanku di bagian kaki pijakan motor maticnya. Dia dan situa berangkat ntah kemana.
Diterpa angin. Aku ketakutan, aku merasa lebih dingin. Aku ingin turun.
Tak kuat, aku memanjat berusaha mendekat. Si pemilik motor ini menjatuhkanku, melepas tangan kirinya dari pegangan motor, memindahkanku kembali kebawah.
Motor berhenti, aku tak tau itu tempat apa. Aku kembali di angkat, kali ini oleh si tua. Dimasukkan kedalam tas. Merasa tak nyaman, aku meronta cukup lama.
Motor berhenti untuk yang kedua kali disebuah pondok kecil. Pondok ditengah hutan. Rumah kecil hanya terbuat dari kayu. Ada banyak pepohonan disana. Aku tak mengerti. Situa memasukanku kedalam kresek hitam. Aku tak nyaman, dan mulai meronta kembali. Hari itu, aku ketakutan.
Dia, si pemilik motor meninggalkan situa membawaku yang masih berada didalam kresek hitam ntah kemana. Lelah, aku berhenti memberontak.
Motor berhenti untuk yang ketiga kali.
Keluar dari kresek hitam, aku melihat sebuah cahaya. Sebuah ruangan. Dikelilingi meja dan kursi-kursi. Rumah tembok, rumah yang sangat besar untuk ukuran hewan sepertiku.
***
Kucing itu, kasihan sekali melihatnya. Dia tak punya siapa-siapa. Kurus kering. Kurang gizi sepertinya. Kasihan, aku membawanya pulang.
Seperti dugaanku, ibu tak akan suka. Beruntung bapak membolehkan, mendukungku malah. Anak kucing itu, umurnya belum samapai 2 bulanan. Meski nekat dan masih amatiran, aku memberinya makan. Nasi putih+kuning telur. Dia makan meski tak menghabiskan.
Aku suka dia, anak kucing itu terlihat lucu. Aku memberi nama JUBEL. Jubel adalah singkatan angka “Tujuh Belas”, karna aku menemukannya ditanggal tujuh belas.
Hari pertama, sedikit sekali makannya. Kotorannya encer, sangat encer. Sepertinya dia terkena diare. Ya, dari awal dia sudah terlihat sakit.
Hari kedua juga sama. Aku resah. Mungkin karna masih kecil, dia belum bisa makan nasi. Akhirnya, ku belikan susu SGM untuknya. Tapi apa??? Dia tetap tidak mau. Aku berencana membawanya ke pos kesehatan hewan. Tapi, itu belum sempat aku lakukan. Aku masi saja sibuk dengan urusan lain, dia sedikit terhiraukan.
Hari ke-3 dan hari ke-4 sama sekali dia tak menyentuh nasi. Sesekali dia berjalan ke kamar mandi untuk minum. Padah, sudah ku sediakan tempat makan/minum untuknya. Aku tak tahu. Atau mungkin aku belum mengerti kalau dia masih terlalu kecil untuk mengerti hal-hal seperti itu.
Aku menyuapinya susu. Tak banyak yang ia minum. Kalau tak aku paksa, mungkin tak akan ia minum.
Hari ke-5 dia menghilang. Aku tak menemukannya. Dia mencari kehangatan di balik selimut diatas kasur yang berada di paviliun rumah.
Hari ke-6, dia juga menghilang. Adikku bilang, semalam ia tidur dengan Jubel.
“Pagi, sebelum mandi Jubel masih disini kok mbak”, ucapnya padaku.
 Aku mencarinya ke seluruh bagian rumah. Hasilnya nihil. Tetap tak ku temukan. Mendengar bunyi “meong” pun tidak. Malamnya, aku kembali menelusuri seluruh ruangan rumah bersama adikku. Aku penasaran. Jubel tetap tidak ditemukan.
Keesokan paginya, Jubel ditemukan tewas dibawah meja. Tepat di hari ke-7, tanggal 24.
Penyesalan besar bagiku. Menyesal tidak sempat membawanya ke pos keswan. Menyesal telah memungutnya dan membawanya pulang. Menyesal telah menelantarkannya di rumah sendirian.

Senin, 28 Januari 2013

Jalan-jalan di Kota Semarang


Dua hari bersama Rara Sabria di Kota Semarang sungguh sangat menyenagkan J J J


Aku berangkat siang, setelah jum’atan. Dari kota salatia, aku berkunjung ke Semarang menemui Rara Sabria, sepupuku tersayang. Kali ini aku akan menjadi turis, Rara lah guide nya.
Dari Salitaga menuju Kota Semarang tidaklah lama. Hanya dalam waktu + 1 jam, aku telah sampai di Semarang. Mengunakan bus antar Kota aku turun di ADA BANYUMANIK SEMARANG.
Kita sudah berjanji ketemuan disana. Rara menjemputku menggunakan sepeda motor. Siang itu, aku dibawa Rara berkelilling mengunjungi kampus UNDIP tempat Rara kuliah. Aku diajak jalan-jalan mengitari kampus. Rara memberi tahuku dan mengenalkan fakultas-fakultas yang ada disana. Walau hanya sekilas , aku tetap bahagia meskipun tak banyak yang aku ingat mengenai letak dan fakultas apa aja yang ada disana. Dibanding kampus cabangku yang ada di Bukittinggi, UNDIP jauh lebih besar, lebih luas dan lebih megah. Mungkin hampir sebesar  UNAND (aku juga kurang tau, kira-kira begitulah). Tapi, UNAND lebih unik karna material bangunannya yang terbuat dari batu.
Setelah berkeliling, aku dibawa Rara menuju kostannya di Tembalang. Disana aku juga bertemu dengan teman-teman SMA ku dulu. Lia dan Tifa. Sore itu kita habiskan dengan berkunjung ke Rumah Sakit Umum Banyumanik. Teman Rara, sesama Minang terserang DBD dan terpaksa dirawat di RS ini. Kekeluargaan yang sangat kental tergambar disana. Rame sekali. Secara bergantian anak-anak IKAMI (Ikatan Mahasiswa Minang) menjaga dia yang dirawat.
Malamnya, kita main ke Maal Citra. Dinner di KFC dan nonton Habibie & Ainun.Serrruuuuuu bgt, Perjuangan Ainun, kesetiaan Ainun jempolan dech J
Rara




Si Rara kurang peka. Orang udah meneteskan air mata, ngusep-ngusep mata, eeee tissuenya belom juga muncul. Dan akhirnya, setelah beberapa menit berselang, si tissue yang ditunggu-tunggu nongol dari dalam tasnya Rara J. Dengan singap aku langsung mengambil sehelai tissue. Tanpa mempedulikan.
Aku bingung juga ni kisah lucunya dimana. Yang jelas, setelah film selesai, kita pulang dan lansung terbahak-bahak mengingat kisah tissue yang telambat datang.
Karna dapat tiket malam, 21.55 pulangnya pun larut. Sekitar jam satuan kita nyampe di kost. Sebelum ke kost, mampir dulu ke Indomart beli nugget buat sarapan besok pagi. Dan ternyata, rupanya, kiranya, ada Rian Bakua disana. Rian, teman satu SMA ku. Pernah satu kelas juga dulunya. Salaman dan tonjok-tonjokan seperti biasa. Hehehehe. Ngobrol bentar dan kembali pulang.
Besoknya, aku bangun lebih awal dari Rara. Setelah shalat, aku tidak bisa tidur lagi. Sementara rara, masi saja larut di alam mimpi. Jam 9. Rara masi belom bangun. Sementara nunggu, aku melihat koleksi novel milik Rara. Blom terlalu banyak sih. Tapi lumayan. Ada Ranah 3 warana, novel Dee dan..? eeemmppp.. aku lupa. Hehehehe. Aku sempat baca sebentar beberapa. Tapi ngga lama. Samapai akhirnya, aku membangunkan Rara lagi.
Sarapan pagi. Goreng nugget dan membeli nasi. Sepertinya biaya hidup di Semarang ngga semahal di Bukittinggi. Kalau di Bukittinggi Rp. 7000,- hanya dapat beli lauk doang di Semarang malah nasi lengkap lauk dan sayurnya.
Setelah sarapan pagi, aku mandi. Oya, sebelumnya aku udah janji mau ketemu Adit. Teman satu SMA ku juga. Kalau aku ngga salah, kita pernah 2 kali sekelas. Tepat setelah aku mandi Adit datang. Aku, Tifa, Lia dan Adit ngobrol-ngobrol bentar di kostan. Eh, bukan bentar sih. Lumayan lama. Saking lamanya Rara sempat ketiduran karna nungguin kita.
Obrolan panjang. Mereka masih salah sangka mengenai psikologi. Banyak mitos-mitos psikologi yang kami diskusikan disana. Ngeliat kepribadian dari tanda tangan, ramal garis tangan, etc. Obrolan panjang, sampai gossip kedekatan Adit dengan seorang perempuan juga kita diskusikan. Sayang, obrolannya harus terpotong karna aku harus melanjutkan perjalanan. Kalau tidak segera, bisa-bisa aku balik ke Semarangnya kemalaman.
Akhirnya, jam sebelasan aku dan Rara berangkat untuk berenang. Tujuan kami “Water Blaster”. Untuk masuk ke tempat ini kita mesti membayar Rp. 50.000,-/ orangnya. Dan ini memang untuk semua wahana. Semua penbayaran dilakukan di depan. So, pembayaran lokerpun harus kita lakukan ketika membayar tiket masuk. Kita menyewa loker besar. Maklum, barang bawaan banyak. Hehehehe. Uang sewanya Rp.10.000,- untuk satu loker besar.
Aku kira, Water Blaster memang tempat berang. Ternyata bukan. Water Blaster ini ternyata tempat bermain air. Kalau di daerah Sumbar, bisa jadi hampir sama dengan Minang Fantasi (Mifan). Tapi jelas, Water Blaster lebih besar dan lebih luas. Seluncurannya pun juga lebih tinggi. Lokasinya itu berada di dalam perumahan elit yang memiliki lapangan golf. Pantas saja di tiketnya di tuliskan “Graha Candi Golf”. Selama dua jaman kita main air disini. Seru-seruan naik seluncuran + pelampung. Masuk mulut hiu, ke daerah kapal karam, pokoknya main air deh #bukan berenang.
Perjalanan berikutnya, menuju “Lawang Sewu”. Hari sudah sore dan kita belom makan siang. Akhirnya, kita putuskanlah makan di Solaria, Paragon mal. Shalat Asar disana. Memang tidak dipungut biaya. Tapi, untuk peminjaman mukena kita mesti memberikan KTP sebagai jaminannya. Baru kali itu aku melihat yang seperti itu. Pengunjung mushalla ini juga sangat rame. So, mesti antri de.. :D
Dari paragon, kita jalan kaki menuju Lawang Sewu. Ngga jauh kok, Cuma beberapa menit jalan kaki. Dari depan pintu masuk Lawang Sewu, kita bisa langsung melihat tugu muda. Anatara Tugu Muda dan Lawang Sewu memang ada keterkaitan sejarah. Sayang aku lupa dan memang ngga tau. Hehehehehe.
Masuk lawang sewu, kita langsung beli tiket dan disediakan tour guidenya. Harga tiket Rp.10.000 untuk satu orang, satu kali masuk. Dan pembayaran guidenya Rp.20.000,-
Lucunya, Lawang Sewu ini menggunakan promo. Untuk sepuluh kali kunjungan, kita bisa gratais 1 X kunjungan. Hehehehehe. Menurutku ini satu hal yang aneh.

Di Pandu Mas Bambang (kalau ngga salah), kita berjalan mengelilingi bangunan tua ini. Beliau menceritakan sejarahnya dan seluk beluk ruangan. Dulunya lawang sewu merupakan kantor administrasi dan stasiun kereta api. Lawang Sewu, berarti seribu pintu. Dikatakan begitu karna memang ada banyak pintu disini. Pintu ini dihitungnya bukan berdasarkan lobang pintunya, tapi berdasarkan daun pintu yang ada. Setelah dihitung, disatu pintu terdapat enam daun pintu. Banyak bgt yah. Katanya sih untuk sirkulasi udara biar ngga panas. Perasaan sirkulasi udaranya banyak banget. Diruang bawahnya juga ada sirkulasi udara. Diatas bagian atap juga sebagai sirkulasi udara. Setelah diajak berkeliling, kita ditwarkan untuk ke ruang bawah tanahnya. Sebagai penjara bagi masyarakat Indonesia. Ada penjara berdiri dan penjara jongkok disana. Dulunya sih, ngga boleh ada yang masuk kesana, tempatnya ditutup untuk umum. Namun, setelah tim bukan dunia lain shooting disana. Tempat ini akhirnya dibuka. Untuk masuk kesana, kita mesti membayar guide lagi. Aku lupa berapa. Kita akan di fasilitasi sepatu bot dan senter.
Bersama gide yang baru kita masuk ke penjara bawah tanah itu. Gidenya kali ini seorang perempuan. Ibu-ibu yang menerutku sangat berani. Bayangkan, ia begitu beani menjadi pemandu untuk ruangan gelap seperti itu.
Gelap dan sangat mengerikan. Bukan hanya itu, dibawah sana juga sangat becek. Genanagn air dimana-mana. Guidenya bilang, dulunya ngga ada lampunya, baru beberapa tahun belakangan ini ruang bawah tanah diberi lampu. Ngeri sekali. Sempat merinding juga. Toh hanya kita bertiga yang ada disana. Untuk sampai di tempat awal saja, kami harus meloncati sebuah jendela.
Pemandu


Penjara Jongkok

Selesai menelusuri ruang bawah tanah, kami kembali lagi di pandu Mas Bambang keluar menuju halaman. Ya, Mas Bambang memandu kami hanya sampai di daerah ini. Ia menunjukkan jalan keluar dan memepersilahkan kami beristirahat.
Makan donat dulu

Kreta api di halaman depan Lawang Sewu

Sayang sekali, hanya sebentar waktu yang aku punya. Padahal kalau saja aku bisa lebih lama di Semarang bersama Rara mungkin kami akan mengunjungi tempat-tempat yang lebih seru. Walaupun sebenarnya dia lagi dalam masa ujian.
Menyenangkan sekali walau hanya dua hari J. Setelah magrib, aku kembali ke Salatiga. Naik bus di Ada Banyumanik di antar Rara J
Makasiiii untuk waktunya ^_^

Dokumentasi: Lawang Sewu










Miniatur Lawang Sewu

Tahun Baru, Kembang Api Cetar Membahana


31 Desember, aku berencana ngga kemana-mana. Menunggu pergantian tahun di rumah saja. Mbak Ika bilang, lebih asyik kalau melihat kembang api dari rumah saja. Maklum, rumah ini berada di daerah yang cukup tinggi. Kalau biasanya kita melihat kembang api mendongak ke atas, dari sini (Salatiga) kita bisa melihat kembang api kearah bawah (Daerah Ambarawa), atau dengan membuang pandangan jauh kedepan saja.
Sayangnya turun hujan, kadang gerimis, kadang hujan lebat. Aku sempat melihat kembang api dari arah Ambarawa sana. Mungkin itu ulah anak-anak yang ngga sabar menunggu pergantian tahun.
23.00 WIB, hujan lebat digantikan gerimis. Rinai mengunjungi derah kami. Kota Salatiga. Meski basah-basahan, jalanan tetap rame. Yang menggunakan motor, terlihat begitu mesra bersama pasangan mereka. Ada yang membawa anak, ada juga pasangan muda. Mau-maunya mereka hujan-hujanan begitu hanya untuk menyambut dan merayakan  pergantian tahun di pusat kota.
Karna belom shalat, aku masuk kedalam dan berwudhu. Lagi asyik-asyiknya menggosok gigi, Bulik mengetok pintu kamar mandi. “Wara, mau ikut ngga? Lihat kembang api? Di Pusat kota?”.
“Iya,,, tapi Wara shalat dulu ya Bulik. Eh, apa ngga hujan?”
“Ngga kok, Udah reda. Bulik tunggu di luar ya..”
Menggunakan angkot, kami (Aku, Bulik & Yoga) berangkat menuju pusat kota.
Tak kusangka, tahun baru memberikan rezeki tersendiri bagi beberapa pedagang dan sopir angkutan umum. Ngga biasa-biasanya masi ada angkot yang mencari penumpang pada jam setengah dua belas malam. Biasanya, di jam sembilan sudah sangat susah menemukan angkot.
Bukan hanya itu, Walikota mengadakan open house di rumah dinasnya yang juga berada dipusat kota (Aku tak menemukan hal seperti ini di Kota Solok). Disana diadakan acara makan bersama. Siapa saja boleh ikutan makan.
Masi seperempat jam lagi, hanya untuk menunggu angka 31 menjadi angka satu.
Rame sekali, Pusat kota sangat rame. Sepertinya semua orang keluar rumah. Pasar dan jalanan dipenuhi orang.Bermeter-meter panjang  jalanan, isinya orang semua. Saaaannnngggaaaaatttt rame. Penuh sesak dengan orang. Jalanan banjir orang.
Tinggal beberapa detik lagi. Seseorang dari atas gedung hotel melambai-lambaikan tanggannya menggunakan pentungan polisi. Cahaya merah panjang bergoyang ke kiri dan kekanan.
10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1 asap menggempul bercaya kemerah-merahan dan kuning. Sebuah balon api terbang ke udara. Perlahan naik, kembali turun dan menghilang. “Jeduar, jeduar.!!! Nyyiiittttttt!!! Duuaaarr!!! Duarrr!!!!” Kembang api mulai menghiasi langit, bergantian memamerkan keindahan masing-masing. Selama 40 menit kembang api dimainkan. Semua bersorak-sorak melihat Indahnya kembang api. Malam itu, langit dihujani cahaya api dan asap dari seluruh negeri. 

Kembang Api @Salatiga. 1 Januari 2013






Perjalanan


26 Desember 2012, aku bersama bapak dan temannya (Lik Tian) berangkat ke Pulau Jawa mengunakan Bus Lorena tujuan Jakarta, Bogor, Bandung. Ngga banyak yang bisa aku lakukan sepanjang pejalanan. Menamatkan novelnya Pak Tere Liye “Daun yang Gugur Tak Pernah Membenci angin” sambil sekali-sekali memandang jalan melihat daerah orang. Kita naik bus dijalan (tanpa tiket) dengan biaya Rp.280.000/orang. Sayang, aku tak sempat menghitung berapa banyak kita berhenti dan makan di jalan.
Dengan menggunakan Feri, kita sampai di Jakarta. Naik kapal itu menyenangkan, baik itu siang, pagi maupun malam bagiku perjalanan mengunakan kapal sangat menyenangkan. Aku suka melihat air, aku suka melihat riak-riak air dan busa yang diciptakan kapal, aku juga senag melihat lampu-lampu indah dari kapal lain yang juga menyebrang. Menunggu pagi di terminal 27 Desember, begitu turun bus kami langsung disambut oleh orang-orang berseragam yang bertugas ngangkatin barang. Tanpa disuruh, barang-barang sudah mereka angkut menuju tempat/ bus tujuan berikutnya. Kami naik angkot menuju Pulau Gadung. Tujuan akhirku dan bapak adalah kota Salatiga, Sedangkan Pak Lik Tian turun di Jepara.
Yang membuat aku terkagum-kagum adalah, “Pasar Pagi”. Jam di Ponselku menunjukkan pukul 3 lewat 20 menit. Pasar itu surah ramai. Penuh dengan orang. Menakjubkan.
Pulau gadung masih sepi. Namun begitu, ada beberapa orang yang menunggu seperti kami disana, serta beberapa ibu-ibu penjual kopi, gorengan dan roti. Bapak dan Lik melihat-lihat loket, untuk menentukan Bus yang akan kami gunakan. Sayangnya, bus menuju salatiga ngga ada yang berangkat pagi, semua jurusan berangkat siang hari setelah dzuhur. Akhirnya, kami ikut Lik naik mobil menuju Jepara, keberangkatan jam 8 pagi. Mengunakan Bus Shantika yang ongkosnya Rp. 180.000/orang kami berangkat menuju Jawa Tengah.
Aku ngga tahu itu daerah apa, yang jelas kami melewati pinggir pantai. Disana ada banyak tambak ikan. Bapak bilang, itu tambak ikan bandeng.
Karna asyik baca dan ngeliatin jalan, aku jadi lupa mengabadikan gambar.
Aku dan Bapak turun disemarang, nyambung lagi naik Bus menuju Salatiga. Beruntung kami ngga nunggu terlalu lama.
Jum’at malam, kami sampai di Salatiga. Salaman, cipika-cipiki, ngobrol bentar dan beristirahat.
Selama di Salatiga, ngga banyak yang aku lakukan. Hanya membantu Bulik masak setiap pagi, ngeliatin jalan lagi (rumah bapak di pinggir jalan lintas) dan menamatkan “Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Mera”nya Pak Tere diiringi bisingnya jalanan. Ada banyak bus jurusan Semarang-Solo, angkot, Taxi, Truk, Fuso, mobil dan motor yang berlalu lalang.
Cukup menyenangkan, meski aku ngga kemana-kemana.

Senin, 21 Januari 2013

Negeri Memproduksi


Ternyata Kota Solok punya tempat penyulingan minyak “SERAI”


Kita pasti pernah mendengar kata “Gunakanlah Produk dalam Negeri”. Yapz, kata-kata ini pernah diikut sertakan dalam sebuah iklan suatu prodak. Ngomong-ngomong soal iklan, bukan bermaksud mengiklankan hanya saja saya tertarik dengan hal ini, makanya saya selipkan di blog saya. Hehehehehehe
Sebelum masuk ke inti tulisan yang lagi saya ketikan, saya akan bercerita panjang mengenai bagaimana saya bisa sampai menemukan tempat penyulingan ini. Semoga pembaca ngga bosen ya… hoho
Libur semester V, setelah berkutat dengan kegiatan kampus yang notabenenya disibukkan dengan kegiatan, tugas, praktek  dan ujian, kami para mahasiswa diberi kesempatan oleh pihak universitas untuk refresh sejenak dari rutinitas perkuliahan. Tentu, kesempatan ini tidak disia-siakan. Umumnya, para mahasiswa pada pulang, berlibur dan mencari tempat rekreasi. 2 minggu saya berlibur ke tanah kelahiran bapak di Salatiga Jawa Tengah. (Perjalanan Liburan, next page). Maaf ya pembaca, saya memang sering begitu, loncat sana-sini. Gatal rasanya tangan ini, pengen menceritakan semuanya. Asyiknya liburan bersama keluarga. Hahahahahaha
Oke, langsung ke inti cerita. Jadi, setelah pulang dari Salatiga saya mendadak jadi tukang ojek. Sebenarnya bukan mendadak, tapi sudah menjadi kegiatan rutin kalau saya pulang kerumah ngantarin Mbah Putri kesana kemari (maklum, cucu tertua).
Jadi ojek pribadinya mbah putri (nenek saya-keturunan Solok asli-Usmaini namanya) sangat menyenangkan. Ada banyak cerita yang dpat dijadikan pelajaran disana. Termasuk kegiatan yang satu ini. Pagi itu, kalau ngga salah 16 Januari lalu saya mengantar mbah keladang, terus ngumpul sama anggota kelompok tani yang lain, dan berangkat ke Laiang. Sebelumnya mbah memang sudah merekomendasikan saya untuk membawa kamera dan mengabadikan kegiatan yang akan dilakukan disana. Saya ngga tau persis itu kegiatan apa, yang jelas ada ibu-ibu PKKnya, dihadiri Ibu Wali Kota dan mungkin beberapa jajarannya. Ada yang meliput juga.
Kelompok tani Kalumpang Saiyo (Mbah putri salah satu anggotanya) mendapat undangan untuk ikut serta menghadiri acara yang saya ngga tau dalam rangka apa (Saya juga enggan bertanya).

Mbah Putri (Kiri) & Andung (Kanan)



“SEKILAS INFO”
Beberapa hal yang saya tahu tentang kelompok tani ini: Kelompok ini merupakan salah satu kelompok petani yang ada di Kota Solok. Di Ketuai oleh “Pak Guru”. Kalau saya ngga salah, beliau ini ngajar di alahan panjang (Saya lupa nama daerahnya). Mbah bilang, tu tempat masih primitive. “Ilmunya kuat” (Mistic). Kelompok tani Kalumpang Saiyo telah terbentuk beberapa tahun lalu (Kata mbah sih sudah lama, sebelum mbah pensiun kelompok ini juga sudah ada). Sekarang anggotanya ada dua puluh orang. Kelompok ini seperti bintang yang berkelap kelip, kadang hidup, kadang mati, kadang redup, kadang kliatan, kadang ngga. Nah, sekarang mereka bangkit kembali. Tu lagi buka lahan sewaan yang nantinya akan ditanami serai.

Kembali ke inti cerita, Samapai di lokasi saya sudah melihat banyak orang termasuk diasana pegawai pemerintahan, dari pertanian kali ya (Selain ibu-ibu PKK dan ibu Wali Kota seperti yang telah saya ceritakan tadi). Sayangnya saya terlambat, So, saya ngga tau persis rangakaian acaranya seperti apa. Ketika saya datang, reporternya sudah asyik mengambil-ngambil gambar dan mengulang-ulang adegan penyulingan minyak serai.

Danil apa Denil ya??? Begitulah orang-orang disana memanggilnya (Saya belom sempat kenalan, apa lagi ngobrol panjang), dialah orang yang berperan penting disini. Tempat penyulingan minyak itu dibuat oleh beliau sendiri (Kabar yang saya dengar), beliau juga sudah 2X ke Jepang melakukan studi banding.
Dari kegiatan inilah saya jadi tahu bahwa ternyata Kota Solok punya tempat penyulingan serai. Dan telah menghasilkan minyak serai. Kalau sehari-hari kita sering mendengar Teh Sari Wangi, sekarang malah ada yang namanya Minyak “Sarai Wangi”.

Minyak Sarai ini, asli buatan dalam kota sendiri. Kota Solok. :D :D :D
Minyak ini dapat digunakan untuk Rematik, Encok, Pegal-Linu, Digigit binatang berbisa, sakit gigi, dan patah tulang kalau saya tidak salah dengar. Bagi yang berminat silahkan datang langsung ke Laiang atau kunjungi apotik terdekat.

Gambar1.Tempat Daun Serai Yang akan disuling

Gambar 2. Tungku Pembakar

Gambar3. Tempat Pendingin

Gambar4. Finish

Saya ngga tau pasti gimana prosesnya, kalau boleh nebak-nebak prosesnya seperti ini: Daun-daun serai yang telah dipanen dimasukkan kedalam tempat yang ada di gambar1. Kemudian, panaskan tempat yang ada di gambar2 dengan memasukkan kayu bakar, atau hal-hal lain yang bisa dibakar. Setelah itu, minyak seraipun jadi... Silahkan ambil dari tempat yang terdapat di gambar3. Hehehehe
Lantas, bak air yang di gambar 4 apa gunanya??? Penasaran??? Itu digunakan sebagai pendingin agar minyaknya ngga menguap. Sekian

Dari Sawah Piai Kota Solok, Wara Frizzy Melaporkan ^_^