Senin, 29 April 2013

“JANGAN COBA-COBA JIKA ITU BERBAHAYA”


Sore ini saya dan Fadilah kembali menikmati keindahan kota Bukittinggi. Penasaran ingin mencicipi ikan bakar suri kami membeli sebungkus nasi. Seperti biasa, setelah menunaikan ibadah shalat magrib di masjid raya kami menikmati si ikan suri. Duduk dipinggir taman jam gadang (arah jam tiga disebelah kanan tangga), nasi sebungkus berdua + pemandangan lampu-lampu kota. Nikmat, lezat dan sungguh mengagumkan.
Sayangnya, selain menyapa pengunjung yang lalu lalang kami melihat kejanggalan. Sambil menikmati sebungkus nasi, kami mengamati dan berbincang-binang. Tak disangka-tak diduga, seorang bapak-bapak, menggunakan tas sandang samping, memengang rokok mondar-mandir di samping kami.
Dua pemuda duduk dikursi taman yang telah disediakan. Ya, sepertinya mereka melakukan hal yang sama (menikmati lampu-lampu kota dan jam gadang tentunya). Sibapak tiba-tiba mendekat kearah mereka, berdiri agak lama dan menyapa. Kami tak tahu dan tak mendengar apa yang mereka perbincangkan. Akhirnya, dua pemuda ini pergi meninggalkan si bapak dengan gelagat yang cukup aneh.
Saya heran dan penasaran. Terus mengamati. Sedang Fadilah sibuk mengingatkan untuk berhati-hati
***
Sambil menghabiskan nasi yang tersisa, saya melihat dua pemuda lagi duduk dikursi yang tadi. Mereka asyik menikmati alam Bukittinggi. Tak lama, si bapak tadi datang kembali. Melakukan ritual yang sama. Mendekati dan mengamati. Kali ini ia mengeluarkan kotak rokoknya, memanjangkan tangan kea rah pemuda. Namun, taka ada respon dari mereka. Si bapak pun menyapa, membuat perbincanagn singkat hingga akhirnya salah seorang pemuda mencolek temannya dan pergi meninggalkan lokasi.
***
Kami selesai, ikan dan nasi telah habis. Hanya rasa penasaran yang tersisa. Kamipun memberanikan diri bertanya, mengejar si pemuda.
Di depan Ramayana:
“Da.. da.. manga apak tadi da?”
Kami tidak menerima jawaban, salah satu dari mereka memberikan senyum keraguan.
“Ba tu diak?”
Fadilah pun menjelaskan rasa penasaran.
“Ndak ado do diak” jawab salah satu dari mereka.
“O iyo lah da, makasi yo da”.
Kamipun pergi meninggalkan mereka.
***
Penasaran itu masih ada, kami kembali ke lokasi. Tak menemukan si bapak tadi, kami pun menimbang akan melanjutkan observasi atau tidak. Sementara kami menimbang dan kembali mengamati,. Tiba-tiba dari kejauhan kami melihat dua pemuda tadi mendekat menuju arah kami. Fadilah mulai cemas, menggengam tangan saya dan meremas.
Ternyata si pemuda mengingatkan kami untuk tidak mendekatinya. Ia mengingatkan kami untuk berhati-hati.
***
Kamipun pergi menjauhi lokasi dengan rasa penasaran hingga tercipta hipotesis dan kemungkinan-kemungkinan yang sebaiknya tidak diceritakan.
Hasilnya: Kami mendadak ketakutan disepanjang perjalanan. Mendadak paranoid.!!!

Sabtu, 13 April 2013

YIHAAA.!!


Heyyy,,
Lihatlah kawan
Kebersamaan kita..
Menjauhkan duka
Mendatangkan suka
Membuat iri dunia

Woyyy,,
Selalu bersama
Menciptakan tawa
Kita bermain
Bersenang-senang
Mendatangkan cinta
Untuk kita

Kitaaaa,,, bersatu,,, bernyayi,, berseru
Kitaaa,,, utuk kita
Satu cinta
Satu suka
Satu tawa
Satu bahagia

Hubungannya???


Hal gaje yang pernah terjadi,.
Asosiasi bebas
Hingga tercipta
Ketikan ini



Hahahahahahahahahahaha

Hihihihihihihihihihi

Huhuhuhuhuhuhu

Hehehehehehehe

Hohohohohohoh

Lalalalalala

Nananana

Nyanyian,,,

Banyak orang,,,

Bernyanyi,,,

Ntah apa,,,

Mereka,,

Selalu,,,

Bernyanyi,,,

Jarang-jarang

Orang-ornag

Mesyukuri

Nikmat Tuhan

Apalagi

Mereka

Yang selalu

Bernyanyi

Padahal

Waktunya

Banyak sekali

Jarang-jarang

Orang-orang

Mensyukri

Nikmat Tuhan

Padahal

Diri sendiri

Suka bernyanyi

Ketemu Tomy Bolin


Percayalah, apa yang kita cita-citakan, apa yang kita impikan akan dikabulkan oleh Sang Pencipta jika itu memang baik untuk kita. Tapi, jika belum saatnya dikabulkan mungkin Allah punya rencana lain yang lebih baik untuk kehidupan kita.

Banyak hal yang telah dikabulkan oleh Allah. Harusnya saya lebih bisa bersyukur atas hal-hal yang telah Allah limpahkan kepada saya. Saya akui beberapa mimpi-mimpi saya telah dikabulkan oleh Sang Pencipta. Maka, nikmat Tuhan yang mana lagi yang saya dustakan???
Sayangnya, saya masih saja mendustai nikmat Tuhan. Seperti, jarang bersyukur, melalaikan shalat, etc. Teramat sangat susah menghilangkan kemalasan yang ada di dalam diri. Emmmp..
*Harus lebih banyak bersyukur nih.
Kali ini, saya akan menceritakan salah satu keinginan/ cita-cita saya yang dijamah oleh Allah. Padahal ini Cuma terbersit dan terlintas begitu saja. Saya ngga terlalu berharap banyak akan hal ini. Yaitu: ketemu Tomy Bolin, dapat tanda tangan dan foto bersama.
Dan itu telah terwujud.
Kisahnya dimulai + setahun yang lalu.
Seperti biasa, setiap akhir pekan saya pulang kerumah. Kebetulan, ada kuliah tambahan, saya pulang kesorean. Alhamdulillah, saya masih dapat mobil. Sore itu, saya naik mobil keberangkatan terakhir (Bukittinggi-Solok).
Maklum, karna ini mobil terakhir ngga banyak orang yang menumpangi. Saya duduk di kursi ke-3 dari supir. Bagian tengah di dekat pintu.
Seperti bus-bus kebanyakan,mencairkan suasana agar tidak membosankan bus itu memutar sebuah kaset. Di depan saya, tersedia sebuah LCD. Musik dinyalakan, video mulai berputar.
Itu lagunya Tomy Bolin, Raper daerah minang. Waktu itu, lagu yang diputar adalah lagunya yang berjudul “pitih-pitih”.
Awalnya, saya benar-benar ngga tau akan keberadaan Tomy Bolin. Sampai saya naik bus ini dan melihat vidionya. Bagus sekali, saya suka gayanya, saya suka lyric lagunya. Sayang, saya ngga bisa menemukan kasetnya dan memang ngga berniat mencarinya. Tapi, didalam hati saya ingin ketemu dan minta tanda tangannya.
Sebagai seorang mahasiswa, saya tidak hanya kuliah dan pulang ke kost. Saya ikut berorganisasi dan ikut tergabung dalam sebuah komunitas dikampus saya. Salah satunya adalah komunitas teater yang diberinama KATARSIS (Komunitas teater psikologi).
Nah, belakangan kita punya pelatih baru bernama M. Fadil. M. Fadil merupakan mahasiswa institute seni Indonesia Padang Panjang, bapak dari seorang anak dan merupakan seorang wartawan criminal.
Suatu hari, ketika kita latihan beliau membawa Tomy Bolin datang ke kampus kami. Ya ampun, cita-cita buat ketemu Tomy Bolin sudah terkabul.
Sayangnya, saya ngga berani ngomong dan minta tanda tangan. Ya,,, paling cuma say hay dan mengobrol.
Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 10 April 2013. Psikologi bekerja sama dengan ISI Padang Panjang mengelar pertunjukan teater di Aula kampus V UPP IV Belakang Balok. Pertunjukan ini, membawa Tomy Bolin sebagai rapernya.
Nah, diacara ini lah saya bisa mmembeli kasetnya, dan meminta tanda tangan. Untuk berfoto, di hari sebelumnya sudah saya lakukan bersama teman-teman saya.
Seru sekali.!!!



Pelajarannya:
Percayalah.! Maka Allah akan kabulkan.!
Ngga nyangka, padahal hanya terlintas saja & dengan segera Allah mewujudkannya. ^_^
Dalam keadaan bagaimanapun, dan dalam kondisi apapun, Allah akan sealu mendengar melihat dan memperhatikan.
Jadi, berhati-hatilah. Kerjakan semua hal-hal baik yang dapat kamu lakukan. Hindari keburukan. Selalu bersyukur.!
Salam hangat J

Sabtu, 30 Maret 2013

Hardikan


Pecundang.! Kalau ngga sanggup, kenapa milih???

Huuuaaaaa,,,,aku  memang ingin dan memang mau membantu. Tapi, bukan diposisi ini. Aku tak suka berada diposisi ini. Apa aku harus mengakui kesalahanku, karna telah memilih? Aku sudah katakan aku tak sanggup, aku tak bisa berada diposisi ini. Tapi apa??? Mereka mempertahankanku.
Aku, tak tau mesti bertanya apa. Aku tak tahu akan mulai dari mana. Semuanya pemula. Tidak mengerti.! Memang, telah disediakan tempat bertanya  tapi aku tak tahu, aku bingung akan menanyakan apa.
Aku sadar, lambat laun, selama proses aku akan mengerti. Waktu akan mengajariku.
Sekarang, mood ku terganggu. Aku tak bisa berekspresi dengan baik. Beberapa orang tak menyukai ekspresi wajahku. Aku ingin berubah, tapi aku tak tau. Aku bingung, aku tak mengerti, aku tak paham bagaimana cara berubah. Bagaimana caranya untuk memperbaiki diri.
Aku jenuh dengan semua ini. Aku jenuh dengan aktifitas ini. Tapi, aku harus bertahan.
Manusia memang punya titik jenuh selama masa hidupnya.
Aku harus mampu bertahan.!

Minggu, 24 Maret 2013

RIP

Rasa itu tlah pudar
Menghilang bersama embun yang teruap
Jauh ke atas
Menghilang
Terbang

Belum Diizinkan

Seperti biasa, minggu pagi di Bukittinggi saya habiskan dengan jogging dan senam di jam gadang (jikalau tidak ada kegiatan). Kali ini, kami pergi bertiga. Saya, Dila dan Tata.
Malam sebelom jogging, saya sudah berniat akan membeli kemeja yang diskonnya 50%+20% di Ramayana. Sudah saya ancang-ancang akan membeli kemeja yang warna Merah, Kuning dan Unggu.
Sebelumnya ngga saya beli, takut ngga muat. Lagian waktu itu malas juga nyoba-nyoba. Udah capek belanja keperluan sehari-hari. Tata yang punya semangat tinggi kalau berbelanja malah beli 2 kemeja. Heran deh, ngga ada capek-capeknya kalau shopping. Nah, sampai di kost saya nyobain kemejanya Tata. Ternyata muat dan bagus. Saya jadi tertarik buat beli juga.
Senam di jam gadang selesai pukul 08.00 WIB. Tata bilang, Ramayana buka jam 09.00 WIB. Mengisi waktu, kami pergi makan dan cuci mata di Boutiq. Tertarik dengan yang ada, saya membeli 2 buah rok seharga Rp. 50.000,.- (Rp. 25.000,.-/rok).
Pukul 09.02 WIB, OTW Ramayana Bukittinggi. OMG, sampai di Jam Gadang, ternyata Ramayananya masih tutup. Kami terpaksa menunggu, duduk-duduk dijam gadang sambil mengamati hal-hal yang ada disekeliling kami + berfoto.
Sayang, sekarang suasana di jam gadang tidak nyaman. Tiap sebentar, pengamen jalanan datang. Kalau ngamen biasa mah ngga papa. Ini orangnya bisa dibilang ngga nyanyi (ngamenya barengan, bisa 2 hingga 5 orang/ group).  Yang satu mengang kantong uang, yang satu pegang gitar. Kalau lebih dari 2 orang, lainnya cuma ikutan.
Mereka memetik gitar, terus langsung nyodorin kresek uang. Ngga dikasih uang dia pergi (ngga nyanyi), oke ini wajar. Kalau udah dikasih uang dia juga pergi, nyanyinya ngga selesai. Seolah-olah jadi kayak tukang minta-minta. Haduuhhh..
Dan itu ngga satu atau dua group tapi banyak, dan mereka datang silih berganti.
Bosen n males terus digituin. Kami minum ice di KFC. Dan ternyata baru buka 10 menit lagi dari kedatangan kami.
Terpaksa duduk dan nunggu di KFC dulu. Ngga papalah, lebih nyaman dan ngga ada pengamen ngasalnya.
10 menit kemudian, kami sudah bisa memesan. Dila dan Tata memesan ice cream, sedangkan saya lagi ngga mood memakan/meminum apapun.
Selesai minum ice, kita menuju Ramayana. Langsung ke tujuan, baju kemeja. Wuiiiiizhh,,, dengan hebohnya kita milih-milih. Baik itu size nya, warnanya, bahanya etc.
Saya bingung, gimana cara ngitung diskonya. Liat tulisan diskon, Ya ammmmppuuuunnnnn… diskonnya Cuma 20%. Padahal, kemaren didiskon 50%+20%. Untuk lebih pasti, kami nanya sama SPG yang ada disana. “Itu diskon yang benar, ngga ada kesalhan sedikitpun” kata SPGnya.
Pring, treng, bruk #@!!#@$%!^@&@$!$@, HATI saya tiba-tiba PATAH. Woalah,, kenapa ngga beli kemaren aja. Haduuhhh…
Pelajaran: Kalau suka dan pengen, langsung ambil aja. Ngga usah ragu-ragu. Jangan sampai apa yang kamu pengen tiba-tiba saja berubah/ diambil orang.
Mungkin Allah blom mengizinkan saya untuk membeli baju/berfoya-foya (baju saya masih banyak dan belom jelek). Toh, saya juga lagi dalam masa penghematan. Maklummm,,, anak kost. Hehehehehe

Salahkan Kamera

Minggu lalu saya dan rekan-rekan melaksanakan kemping dalam rangkaian acara Aplikasi Psikologi (Appsi) di Kecamatan sipisang, sipinang, duo kali sabaleh kanagarian Anduriang Kayu Tanam. Hampir seluruh masyarakat psikologi yang mengikuti kegiatan ini berpanas-panasan, termasuk saya.
Karena saya tidak membawa kamera, saya tidak dapat memamerkan lokasi. Dideskripsi-in aja ya,,, jadi lokasinya itu dikelilingi oleh bukit barisan, daerahnya berupa lembah berisi sawah-sawah yang dialiri sungai. Banyak kerbau, kambing, dan bajak.
Sungai yang terdapat dilokasi ini adalah sungai hidup. Maksudnya, sungai ini digunakan oleh warga sekitar untuk melakukan aktifitas sehari-hari yang berhubungan dengan air seperti mencuci, mandi, BAB, BAK, pokoknya hal-hal yang berhubungan dengan perairan. Maklum, sebagian besar penduduk tidak memiliki kamar mandi dirumah mereka.
Apa hubungannya dengan salah kamera?
Begini saudara, tiba-tiba kulit kami berubah menjadi eksotis. Menghitam terbakar terik matahari. Padahal, selama disana matahari sama sekali tak memperlihatkan bentuknya. Mendung menyelimuti lokasi, kadang-kadang hujan datang mengunjungi. Tapi, ntah kenapa, cuaca didaerah itu selalu saja terasa panas. Panasnya membakar kulit, membuat perih.
Bukan, bukan ini maslahnya.
Beberapa hari setelah Appsi, saya dan member LF mengunjungi kota Payakumbuh. Waktu itu hari selasa, sohib kami Yori kemalangan. Ibu (Kakak Mama) meninggal. Sebagai bentuk turut berduka dan rasa belasungkawa, kami bertakziah kerumah Yori.
Dari rumah Yori, kami naik angkot ke pasar untuk menyicipi soto Che yang katanya sangat enak. Udah lama sih, saya pengen nyoba.
Payakumbuh sangat panas. Kami harus berjalan beberapa kilometer untuk bisa sampai dilokasi kuliner.
Iiiiiiiiiii,,,kok ketikannya jadi panjang gini ya…
Jadi, intinya: selayaknya wanita, yang narsisnya ketulungan. Kalau Nampak kamera, maunya foto aja. Samapai bingung mau bergaya seperti apa. Saking banyak jepret, sampe lupa kalau fotonya udah ribuan. Apalagi kalau liat kaca, diskon belanjaan, produk kosmetik.. Haduuhhhh,,,
Sohib-sohib ini req ke saya minta fotonya diunggah. Yasudah, saya unggah semampu saya (Cuma 4 foto dari sekian banyak foto yang tumbuh subur di ponsel saya). Eeeee,,, baru saja selesai diunggah, muncul di branda, tiba-tiba muncul celotehan “Palak”, “Jujur Bana Kameranyo”, “Sini Aku Editin”.
Buju buseeeettt,, salahkah kamera saya yang telah jujur memampangkan dan mengabadikan wajah-wajah yang ada????

Senin, 11 Maret 2013

Menunggu

Sepanjang perjalanan hidupku, aku memang senang menunggu. Dan sepertinya, salah satu rutinitas yang dilakukan manusia adalah menunggu. Di dalam menjalankan kehidupan setiap harinya,  pasti disi dengan menunggu. Entah itu menunggu dosen, menunggu datangnya kekasih, menunggu kelahiran seorang anak hingga menunggu kematian datang. Lantas, mengapa banyak orang begitu membenci menunggu? Hampir semua orang menuliskan, mengucapkan, mengekspresikan bahwa mereka tidak suka menunggu. Padahal menunggu itu sangat mengasyikan. Kenapa??? Karna dengan menunggu kita bisa melakukan banyak hal. Mempersiapkan sesuatu dengan sangat matang, menikmati waktu dan hal-hal bermanfaat lain.
Oke, mungkin menunggu yang mereka maksud “dalam konteks lain”. Dalam artian menungggu hal-hal yang disadari. Misalnya, rapat jam 2 kemudian menunggu kehadiran anggota rapat yang datang telat atau menunggu datangnya si Do’i untuk pergi kencan.
Padahal semua yang kita lakukan itu adalah menunggu. Menunggu hasil usaha misalnya atau menunggu untuk pencapaian mimpi-mimpi. Emmmppp,,, memang sulit melihat batasannya. Sayang, tak semua orang menyadarinya. Kenapa mesti marah-marah ketika orang lain datang terlambat. Apakah karna kita telah lama menunggu? Harusnya, kita bisa sedikit bersabar untuk mengatasinya. Bisa saja dia (yang telat) lagi ada urusan di jalan. Waktunya bisa kita gunakan untuk mengerjakan hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Atau, jika kita punya urusan lain yang lebih penting, tinggalkan saja. Kan jam yang di tentukan sudah lewat batas janji.
Terlepas dari itu semua, aku menikmati berbagai macam bentuk menunggu. Aku pernah menunggu seseorang dari pagi hingga sore hari. Waktu itu, aku menunggui sepupuku yang sedang melaksanakan kegiatan ESQ. Untungknya, aku bisa berputar-putar dan menikmati keindahan kampusnya. Menikmati jeritan dan teriakan dari luar ruangan. Mensyukuri keindahan alam ciptaan Tuhan.
Sampai sekarangpun, aku sedang menunggu. Menunggu jawaban dari seseorang.
Menunggu itu melatih kesabran.
Hampir semua orang mengidentikan menunggu itu dengan keterlambatan. Kalau seseorang menunggu, pasti harus ada yang telat datangnya, makanya jadi menunggu. Padahal ngga begitu.
Telat. Memang aku kurang menyukai keterlambatan. Mengutip salah satu sindiran dari temanku “Pantas saja karet langka di Indoesia, karna digunakan untuk memproduksi jam katret”. Tetapi aku harus bisa mengambil sisi baiknya.
Mari berfikir, jika hari ini aku mengatakan bahwa aku sedang menunggu untuk sampai di alam akhirat, alam kekekalan, menunggu untuk bisa bertemu Sang Pencipta, menunggu datangnya kematian apakah aku harus menyalahkan Tuhan karna telat mencabut nyawaku? Atau, ketika aku menunggu sebuah pencapaian tertinggi, semua yang aku cita-citakan tercapai, apakah aku harus menyalahkan Tuhan karna telat mengabulkan do’a-do’aku?
Aku rasa banyak yang akan bingung dengan ketikan ini. Yang jelas, nikmati saja prosesnya. Maka kamu akan bahagia ^_^
2 perspektif berdeda.
Sebenarnya apa sih arti kata MENUNGGU?

NTAHLAH.!!!


Terkadang, tak semua orang bisa mengerti
Mereka hanya mampu meremehkan dan mencaci maki
Tua, muda, tak mau tau
Kesenangan memimpin
Menjadi teratas dan paling atas
Bising, panas, bercampur
Menjadi satu dengan adonan keringat dan bau
Bisikan yang terdengar
Suara angin, tawa, senyuman, basa basi dan pertanyaan
Terhidang menjadi kue yang tak dinikmati orang-orang
Sibuk sendiri
Mendahulukan urusan masing-masing
Kesenangan yang terpenting
Sabar telah hilang
Desakan permintaan berdatangan
Pergi, menjauh dan mundur
Siapa yang mau peduli..

Minggu, 10 Maret 2013

Membeli Rahasia


Hujan,,,
Dia tak pernah suka
Hangat
Bukan
Panas
Yap
Matahari
Sinar
Angin Sepoi
Selalu Nikmat Baginya
Mengingatkannya
Menentramkan Hatinya
DIA, MENCINTAI PANAS
MEMBENCI HUJAN
MENIKMATI KEHANGATAN


Wiwi namanya. Seorang mahasiswi pembenci hujan. Memiliki rahasia besar disaat hujan turun. Ntah apa, dia tak pernah memberi tahu rahasia itu pada siapapun termasuk teman dekatnya. Anehnya, dia selalu mengucapkan “Wiwi punya rahasia” disaat hujan mendatanginya. Ketika hujan turun, Wiwi akan membanggakan rahasianya. Rahasia yang tak pernah terungkap, hanya terucap. Tak mau berbagi. Rahasia itu hanya untuknya sendiri.
Wiwi suka bunyi hujan, Wiwi suka memperhatikan hujan, duduk di jendela menunggu hingga hujan pulang. Mengucap kata “RAHASIA”. Kata ini tak pernah terlupa. Hujan & Rahasianya.
Hari itu Wiwi krasak-krusuk. Langit mendung, sepertinya hujan akan turun. Tak biasanya ia seperti ini. Kali ini, tak ada Rahasia yang ia banggakan. Rahasia Wiwi telah hilang.
Wiwi gontai, ia bingung, linglung. Wiwi kehilangan rahasia. Ia tak mau keluar. Menyusul pulang pun tak mau. Ini lah yang terjadi setiap kali hujan memunculkan diri, sementara rahasia Wiwi ntah kemana. Tak ditemukan. Hilang, pergi, menjauh.
Rahasia itulah yang selalu melindungi Wiwi. Wiwi panic ketika gemuruh menghardik dunianya.
Jum’at sore, Wiwi bersiap pulang. Untuk sampai ke P.O bus, Wiwi harus naik oplet dan berjalan kaki selama empat menit melewati pasar.
Wiwi naik oplet hijau yang biasa ia tumpangi. Duduk berdesakan dengan orang banyak, membiarkan music-music keras oplet menguyur telinganya. Wiwi duduk diam, memperhatikan jalanan, sesekali mengelap keringat yang muncul di dahinya.
Udara panas. Tak seperti biasa, kali itu awan hitam. Langit mendung. Wiwi berdo’a dalam hati agar langit tak runtuh.
Turun oplet, satu-satu secara bergantian air membasahi jilbab yang ia kenankan. Wiwi cemas. Ia berlari, mencari tempat untuk menyelamatkan diri. Wiwi takut hujan, apalagi tanpa rahasia yang selalu melindunginya. Semakin lama semakin lebat. Wiwi berteduh disalah satu toko. Hujan deras mengharuskannya berhenti di toko itu. Wiwi bosan menunggu. Ia memutuskan untuk masuk kedalam toko, tak berselera ia melihat air-air itu jatuh membasahi tanah.
Toko itu adalah toko yang menjual gelas, piring, kompor, keramik dan peralatan rumah tangga lain. Wiwi berjalan menghiraukan orang-orang yang berbelanja, menghiraukan antrian  kasir.
“Ya Ampun, Rahasia.!” Wiwi kaget melihat barang yang digantung pada pinggir rak gelas dan piring melamin. Alhamdulilah… disini ada rahasiaku. Aku harus membeli rahasia ini.


Apakah rahasia Wiwi??? :D/V

Boy Band Masuk Kota


Ngga sia-sia hari ini W bangun pagi. Subuh sekali malah. Berolahraga disambut perayaan kota.  Perayaan ini menghadirkan boyband kota yang namanya tersohor ditengah keluarga. Gile dah.! Berbaur dengan masyarakat membuat mereka tak banyak bicara apa lagi berkata-kata. Kalau nyanyi-nyanyi mah iya.
W ngga tau pasti bagaimana mereka bisa muncul ditanah kelahiran W ini. Kalau dideskripsikan nih ya, woalah…. W jamin, imajinasi kalian bakal berantakan, pecah menjadi ion-ion yang tak bisa disatukan, menjadi kutub-kutub dengan arah yang sama, menjadi adonan kue bantat, jadi hantu yang hanya bisa ngesot, dsb.
W certain sisi baiknya aja.
Pertama, mereka selalu bersama. Melakukan hal-hal aneh dan gila. Bereksperimen dengan ketersengajaan maupun tidak disengaja. #Gaje
Kedua, berpakaian hitam. Hal ini menjadi salah satu cirri khas mereka kali ya.
Ketiga, galak tarui seeee..

CERITA AWAL: PERTEMUAN
Seperti biasa, di pagi hari yang belum cerah, matahari masih malu keluar. Maklum, mataharinya baru bangun tidur. Takut ketahuan kalau dia ileran. W bersama adik W yang sumpah, gajenya kebangetan. Pinternya… Wuuiiizzzz,,, jangan ditanya, jogging menuju pusat kota. Tiba-tiba, jengjerengjengjeng… muncul empat orang pemuda berpakaian hitam-salah satunya memamkai manset- melempar senyum pada kami yang tengah asyik loncat sana loncat sini dan berlari-lari. Adik W kek orang yang kenal banget dengan sotoynya menyapa mereka.
(adegan 1 selesai)

Take 2: Pusat Kota
Masyarakat berkumpul. Rame. Melaksanakan rutinitas “senam pagi” dipandu ibu-ibu/ bapak-bapak/ uda-uda/ uni-uni yang mengenakan seragam orange bertuliskan senam jantung sehat (Bukan tukang sapu/tukang sampah/tukang bersih-bersih kota. Eh, yang ini seragamnya kuning ya??? Maaph deh).

Ngga mau kalah, W ikutan senam. Baru aja W masuk barisan senam, rambut W ditarik ibu-ibu (versi lebay). Mesti begitu, ibu ini baik banget dan ngga malu berbaur dengan anak-anak muda seperti kami.

Si Ibu yg W maksud
Ya ampuuunnnn. Parahnya, musiknya langsung mati. Beruntung senamnya belom selesai.
Hening sejenak, pemandu diganti, music baru diputar. Buju buset, ternyata music gangnam style. Yihaaaaaaaaaaa,,, W seneng setengah mampus. Bisa jingkrak-jingkrak.
Eeeeeeeeeeeeeeeeee
Duuuaaarrr.!!! Kesenangan W berubah suram, buram, diselimuti bayang-bayang hitam. Ternyata W masuk barisan pemuda berkaos hitam yang tadi pagi W temui dijalan.
Faktanya: Bukan adik W yang sok kenal sok dekat tapi memang, mereka kenal dan dekat.
Mereka adalaaaaaaaaaaaahhhhhh,,,, tengtereng teng teng, jreng jreng jeduaaar jeduaaar,,, B-O-Y-B-A-N-D.!
Kemana W musti lari, KEMANA??????!!!

Take 3: Jalan sehat bersama wargakota
Dengan iklas dan lapang dada W ikutin maunya mereka. Jalan bersama warga kota.
Beruntung bukan hanya W yang terjebak kegilaan mereka.
Karna W baik hati dan tidak sombong, dengan sengaja W menjerumuskan Putri (salah satu junior adik W) dan Monyet (Sohib W) ikut berpartisipasi menikamti kesuraman ini.  Keren.!!!!
Hal-hal yang dilakukan personil Boy band dalam perjalanan:

1.       Membuat kereta api. Saling memegang pundak personil dan menyenyikan lagu naik kereta api yang ntah siapa penciptanya.
2.       Gendong-gendongan selama perjalanan.
Sedia jasa gendong. Bagi yang cape silahkan minta gedong dengan pemuda berkaos hitam ini. Dijamin, cepet masuk surga :D
3.       Megangin celana msing-masing. Sindrom kecurigaan. Phobia orang banyak.
4.       Menciptakan lelucon disepanjang pejalanan.
5.       Selalu berbicara tanpa kata alias menggunakan kalimat.
6.       Jarang diam dan sering mendengarkan.
7.       Apa lagi ya??? Cukup dulu deh. Panek mah.! Udah siang. Sudah saatnya bagi W buat makan, shalat dzuhur dan bobok siang.


Tulisan ini dibuat berdasarkan ingatan dengan kapasitas long term n short term memory yang cukup memadai. Tanpa amnesia retrograde dan unerogade serta dapat pula dikategorikan sebagai bukti autentik kejadian Pagi Minngu, 10 Maret 2013 dengan penambahan dan pengurangan sesuka penulis. Apa bila ada kesamaan nama, tempat, kejadian maupun wajah yang terpampang pada dokumen kami silahkan memaafkan diri sendiri. Semoga penulis selalu bahagia, awet muda, dilindungi dan di Ridhoi Allah.
Terimakasih telah membaca. Akhir ketikan “Wasalam” titik

Rumah, 13.04 WIB
WARA FRIZZY

Sabtu, 23 Februari 2013

Hanya ingin Pulang

Sudah lama ya aku tak mengunjungi mu lagiiiii...
Aku, si penulis blog yang tak bisa konsisten
Aku yang selalu menelantarkan
Meninggalkan sendiri
Tak mempedulikan

Sekarang, aku sendiri
Semua berubah sunyi
Semua pergi
Pulang
Berkumpul

Perjuangan meuju rumah, mengantarkanku kembali ke tempat ini
Kostan
Tempat
Ini

Setidaknya, dengan pengalaman kemarin aku tahu
"Bus terakhir tujuan Solok, pukul 18.00"
Bukan, bukan itu yang ingin aku ketikan

Tapi...

"Ngga ada yang kebetulan", semua telah digariskan, semua telah ditakdirkan. :D

***

Kemarin sore, setelah mengadakan rapat sosprologi aku di telpon bapak.
Tiba-tiba terbersit keinginan untuk pulang (2 minggu ngga pulang). Dan bapak setuju. Padahal beberapa menit lagi adzan magrib berkumandang.
Segera aku menuju kost, mengangkat jemuran yang banyaknya hampir menciptakan bukit lokal (cucian seminggu+pakaian tetangga).
Packing, mengganti tas bahu dengan ransel.
Tanpa ganti baju, pakaian dinas dan sepatu pantofel aku berangkat ke terminal.

Terminal sepi, bus bukittinggi tujuan solok tak terlihat lagi.
Satu hal yang harus aku lakukan, "Bertanya".
Pepatah bilang, "malu bertanya, sesat di jalan". Karna ngga mau jalan-jalan. Eh, maksudnya tersesat (ngga bisa pulang), aku bertanya pada ibu-ibu yang terlihat.

Eeeeee,,, si ibu juga ngga tau.
Untungnya, aku bertemu seorang pemuda dengan tujuan yang sama.
Dan akhirnya, kita mencari celah agar menemukan bus.

Taraaaaaaa,,,, tiba-tiba ketemu Dila.
"Mbaaaaakkkk"
*slow motion menoleh
"aaaaaa,,,, dilaaaa"
Dila menghilang, langsung naik bus.

Kiri-kanan-kiri-kanan, kami terus berjalan. Wuuuuuuiihhhhh,,,, akhirnya ketemu. Gelap berubah terang rasanya, matahari muncul. Dan tiba-tiba tenggelam lagi. Sang sopir hanya melambaikan tangan pada kami. Bus pertama yang terlihat dimata kami berlalu pergi.

Kami meneruskan perjalanan.
Kakiku melambaikan tangan pada mata kamera.
Tak kuat, ia kesakitan.
Hak sepatu setinggi 7 centi, membuat si kaki tak kuat berlama-lama jalan lagi.
Dari pagi hingga malam ini, selalu bersama si hak 7 centi.

Kasihan, aku naik angkot. Tentu mengajak si pemuda satu tujuan.
Kita berkenalan. (kenalan setelah beberapa jam melakukan perjalanan)
Rahmat namanya. Mahasiswa semester IV Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri. Dan tinggal di Sumani.
Kalau dari Bukit, 30 menit lebih dulu dari pada rumahku.

Jambu Aia, sampailah kami ditujuan berikutnya.
Kembali menunggu bus.
Bapak-bapak paruh baya mendekat. 2 orang.
Menanyakan tujuan kami.
Menelpon kantor bus untuk memastikan kami bisa pulang atau tidak.

Tiba-tiba, cahaya itu muncul lagi. Bus solok-bukittinggi.!
Datang, berhenti, menumpahkan penumpang.
Rahmat menyebrang.
Bertanya pada supir.
Daaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnn "N-I-H-I-L"
Bus itu ngga balik ke Solok.
Suasana semakin suram, 2 bapak paruh baya mengabari kami.
Bus habis.
Angkutan umum menuju Kota Solok ngga ada lagi.
Silahkan pulang esok pagi.

Dengan lunglai, kami kembali.
Berpisah di persimpangan jalan.

Angkot bernomor punggung 14 telah menanti. Sang sopir bahagia mendapat penumpang lagi. Sakunya akan terisi.
Sedang aku, mulai berkaca-kaca berlinang air mata.
Perjalanan pulang yang mengharukan.
_Kembali ke Kost_

Rabu, 06 Februari 2013

Payo's Waterfal


3 hari setelah kepulanganku, aku diajak adik dan para sepupu untuk ikut ekpedisi negeri payo. Melihat air terjun yang ada disana. Sebelumnya, aku memang sudah pernah kesana. Waktu itu aku masih SMA. Kelas XII kalau ngga salah. Diajak rombongan yang ada disekitar tempat tinngalku + 3 orang teman dekatku. Bedanya, di tahun itu aku berjalan melewati jalur air yang memang medannya lumayan sulit karna harus terus jalan di air, banyak batu, lintah dan berisiko hanyut. Beruntung, yang hanyut hanya dompet dan bekal makanan bukan orangnya. Kalau datahun 2013 ini kami melewati jalur darat. Menempuh beberapa bukit (naik-turun bukit).
Perbedaan lainnya, kalau lewat jalur air kita hanya bisa melihat satu air terjun. Yaitu, air terjun paling bawah. Karna memang air terjunya itu tinggi sekali. Nah, kalau yang ditempuh adalah jalur darat yang mesti melewati beberapa Bukit, kita akan bisa menjajaki hampir semua tingkatan air terjun. Tapi tidak bisa ke dasar air terjun terakhir yang memang sangat tinggi. Ngga mungkin rasanya, turun ke dasar  air terjun ketujuh ini.
Kita berangkat jam 9 pagi. Di antar ibu dan bapak, kami akhirnya sampai ke daerah Payo. Sebelum berangkat, ibu telah merebuskan daun herbal untukku dan puja adikku. Kata ibu, biar kami kuat dan ngga ngos-ngosan.
Cantik sekali pemandangan dari daerah ini. Kita bisa lihat Kota Solok dari atas Bukit. Keseluruhan Danau Singkarak bisa terlihat jelas dari sini. Cuca cerah berawan.

Setelah pamitan, kami memulai petualangan.
Melewati perkebunan kunyit milik warga sekitar kemudian kami  masuk hutan.




Seperempat perjalanan hari mulai hujan. Medannya lumayan sulit karna basah dan licin. Banyak sekali jurang disini. Begitu juga dengan duri. Ada duri salak, duri jarek-jarek dan jenis duri lainnya.
Memang awalnya, aku mengunakan sepatu.Tetapi melihat anggota kelompok lain hanya mengunakan sandal seadanya akupun ikutan mengunakan sandal jepit (takut dibilang lebay). Padahal itu demi kebaikan. Harusnya aku tidak perlu malu jika menggunakan sepatu. Tapi sudah lah, itu sudah berlalu. Jadikan pengalaman saja untuk perjalanan berikutnya J
Becek, licin, penuh lumpur. Aku tidak bisa lagi menggunakan sandal jepit ini. Terpaksa aku bertelanjang kaki. Mau tidak mau, aku harus terima risiko. Hujan semakin lebat, beberapa orang meminta untuk istirahat. Akhirya, angku (pemandu) memberhentikan kami disebuah pohon besar. Sayang, ada yang jahil. Tidak sengaja dia mengusik keberadaan lebah disana. Kami terpaksa melarikan diri. Beberapa orang tersengat di telinga, tangan, kepala dan muka. Kasihan sekali.
Selama dua setengah jam kami hujan-hujanan. Semua basah kuyup dan kedinginan. Sebelum sampai ditujuan, kami harus menuruni tebing yang cukup terjal. Untuk turun kesana kami harus menggunakan tali dan berhati-hati dengan bebatuan yang akan jatuh menimpa kami. Rintangannya begitu berat. Kakiku mulai sakit akibat gesekan batu dan hempasannya. 
Berhasil melewati tebing itu kamipun disuguhkan keindahan air terjun di daerah ini (Sampai di air terjun ke-3).  Kami turun menuju air terjun ke dua dan memutuskan untuk makan dan menghangatkan badan disana. Lagi-lagi kami mesti melewati bebatuan. Meloncat-loncat seperti tupai, saling menjulurkan tangan memberi bantuan.


Membuat api, bikin kopi dan makan nasi. Itulah yang kami lakukan di air terjun ke-2. Membiarkan badan kering dengan sendirinya. Setelah berhasil melepas lelah, kami berjalan kembali menuju air terjun ke-3. Foto sebentar dan naik ke air terjun berikutnya. Begitu seterusnya hingga air tejun pertama. Memang dari air terjun ke air terjun  medannya beda, tapi kami menakhlukannya dengan hal sama. Mengunakan tali, manjat-memanjat, menjulurkan tangan untuk saling membantu.
Ternyata jalur darat ini jauh lebih sulit menurutku. Mungkin karna hari hujan yang menyebabkan jalan  licin. Bayangkan untuk pulang saja, aku sudah sangat lelah dan kesakitan. Beberapa kali aku terkena duri. Tidak hanya ditelapak kaki, pungung kakipun juga sampai terkena duri ini. Beberapa kali juga aku harus terjatuh. Sesekali aku terpaksa turun ala peseluncur.
Kami sampai kembali diperkebunan warga ketika magrib. Istirahat sebentar dan kembali makan. Membuat api, bikin kopi dan masak mie.

Kasihan ibu dan bapak. Beliau sudah sampai payo jam lima sore dan terpaksa harus menunggu beberapa jam. Setengah delapan kami sampai diperkampungan. Dan kembali pulang J
Pemandanagn dimalam hari juh lebih seru. Banyak lampu yang terlihat. Seperti bukit bintang. Solok begitu terang. Indah, sangat Indah.
Sayangnya, perjalanan kami ketika mulai memasuki hutan tidak bisa diabadikan. Kami focus dengan perjalanan, medan dan keselamatan kami.
Kabarnya, perjalanan kami masuk Koran. Salah satu dari kami membuat artikel dan mengirimkannya. Sayangnya aku belum lihat.
Seru.!
Oya, daerah ini juga ada Paralayangnya. Mbah bilang, beberapa minggu terakhir Payo sering mengadakan paralayang. Hampir setiap minggu sepertinya. Info lebih lanjut, datangi aja daerahnya. Hehehehehe

Selasa, 05 Februari 2013

Kucing


Dingin… dingin sekali..
Pagi ini aku sendiri, yatim piatu, tak kenal keluarga.
Aku hidup sendiri, begitu kedinginan diserbu angin. Mendung, pertanda hujan akan turun.
Didepan pintu sebuah rumah, aku mencari kehangatan pada sebuah keset kaki. Sesekali, pemilik rumah lalu lalang. Tak peduli. Tak menghiraukan. Sibuk sendiri.
Aku tak tahu sudah setinggi apa matahari waktu itu. Sebuah motor, datang menghampiri. Pemiliknya menghamipiri rumah ini, duduk diberanda. Dengan beberapa orang anak, dia mulai bercemgkrama, bermain, tertawa-tawa. Aku yang kedinginan, mendekati mereka. Mencari kehangatan diantara mereka. Tubuh-tubuh manusia. Aku, dipangku, di ajak bermain, digendong, ditertawakan.
Tak lama, seorang tua datang. Tua itu mengenakan gamis bercorak dedaunan. Hijau, kemuning, daun kering. Membawa tas, mengambil air yang berada di sebuah drom air. Bersiap pergi.
Si pemilik motor tadi mengangkatku, membawa akau bersamanya, mendudukanku di bagian kaki pijakan motor maticnya. Dia dan situa berangkat ntah kemana.
Diterpa angin. Aku ketakutan, aku merasa lebih dingin. Aku ingin turun.
Tak kuat, aku memanjat berusaha mendekat. Si pemilik motor ini menjatuhkanku, melepas tangan kirinya dari pegangan motor, memindahkanku kembali kebawah.
Motor berhenti, aku tak tau itu tempat apa. Aku kembali di angkat, kali ini oleh si tua. Dimasukkan kedalam tas. Merasa tak nyaman, aku meronta cukup lama.
Motor berhenti untuk yang kedua kali disebuah pondok kecil. Pondok ditengah hutan. Rumah kecil hanya terbuat dari kayu. Ada banyak pepohonan disana. Aku tak mengerti. Situa memasukanku kedalam kresek hitam. Aku tak nyaman, dan mulai meronta kembali. Hari itu, aku ketakutan.
Dia, si pemilik motor meninggalkan situa membawaku yang masih berada didalam kresek hitam ntah kemana. Lelah, aku berhenti memberontak.
Motor berhenti untuk yang ketiga kali.
Keluar dari kresek hitam, aku melihat sebuah cahaya. Sebuah ruangan. Dikelilingi meja dan kursi-kursi. Rumah tembok, rumah yang sangat besar untuk ukuran hewan sepertiku.
***
Kucing itu, kasihan sekali melihatnya. Dia tak punya siapa-siapa. Kurus kering. Kurang gizi sepertinya. Kasihan, aku membawanya pulang.
Seperti dugaanku, ibu tak akan suka. Beruntung bapak membolehkan, mendukungku malah. Anak kucing itu, umurnya belum samapai 2 bulanan. Meski nekat dan masih amatiran, aku memberinya makan. Nasi putih+kuning telur. Dia makan meski tak menghabiskan.
Aku suka dia, anak kucing itu terlihat lucu. Aku memberi nama JUBEL. Jubel adalah singkatan angka “Tujuh Belas”, karna aku menemukannya ditanggal tujuh belas.
Hari pertama, sedikit sekali makannya. Kotorannya encer, sangat encer. Sepertinya dia terkena diare. Ya, dari awal dia sudah terlihat sakit.
Hari kedua juga sama. Aku resah. Mungkin karna masih kecil, dia belum bisa makan nasi. Akhirnya, ku belikan susu SGM untuknya. Tapi apa??? Dia tetap tidak mau. Aku berencana membawanya ke pos kesehatan hewan. Tapi, itu belum sempat aku lakukan. Aku masi saja sibuk dengan urusan lain, dia sedikit terhiraukan.
Hari ke-3 dan hari ke-4 sama sekali dia tak menyentuh nasi. Sesekali dia berjalan ke kamar mandi untuk minum. Padah, sudah ku sediakan tempat makan/minum untuknya. Aku tak tahu. Atau mungkin aku belum mengerti kalau dia masih terlalu kecil untuk mengerti hal-hal seperti itu.
Aku menyuapinya susu. Tak banyak yang ia minum. Kalau tak aku paksa, mungkin tak akan ia minum.
Hari ke-5 dia menghilang. Aku tak menemukannya. Dia mencari kehangatan di balik selimut diatas kasur yang berada di paviliun rumah.
Hari ke-6, dia juga menghilang. Adikku bilang, semalam ia tidur dengan Jubel.
“Pagi, sebelum mandi Jubel masih disini kok mbak”, ucapnya padaku.
 Aku mencarinya ke seluruh bagian rumah. Hasilnya nihil. Tetap tak ku temukan. Mendengar bunyi “meong” pun tidak. Malamnya, aku kembali menelusuri seluruh ruangan rumah bersama adikku. Aku penasaran. Jubel tetap tidak ditemukan.
Keesokan paginya, Jubel ditemukan tewas dibawah meja. Tepat di hari ke-7, tanggal 24.
Penyesalan besar bagiku. Menyesal tidak sempat membawanya ke pos keswan. Menyesal telah memungutnya dan membawanya pulang. Menyesal telah menelantarkannya di rumah sendirian.