Jumat, 01 April 2016

MAK SARINAH

Persoalan Pengemis


W sering melakukan perjalanan ke banyak tempat dengan berbagai kendaraan. Pernah pake motor, mobil, bus, truck, pesawat, kapal, perahu, pompong, rakit. Hellikopter belom pernah. Semoga aja bisa di segerakan. Ahahaha. Dan W menemukan banyak cerita, banyak kejadian dan banyak pemahaman dari perjalanan-perjalanan yang udah W lakukan. W nggak bisa ceritain semuanya satu persatu secara tajam setajam baja. Apa’an sih Wara.!

Sering sekali W ngobrol dan cerita seru dengan orang-orang di Bus. Ada kakek-kakek yang nawarin kerja ke W. Pernah juga ketemu ibu-ibu yang baik banget dan percaya bahwa rezeki udah di atur Allah. Beliau paham betul bahwa semakin banyak kita memberi, maka semakin banyak pula kita akan menerima. W dapat banyak cerita dari sini. Pernah juga W ketemu sama ibu-ibu penjual peyek rinuak, bika, apem dan kue-kue lain. Beliau dari Maninjau. Menjual dagangan ke berbagai tempat, tidak fokus pada satu tempat saja. Beliau punya hari-hari tertentu dan sudah mengaturnya jauh-jauh hari sebelum berjualan. Yap.! W punya banyak cerita.

Dari semua cerita yang ada, cerita ter--- menurut W adalah ketika W bwertemu seorang nenek-nenek yang akan pulang ke rumah. Kita satu arah, satu bus dan duduk bersebelahan. W dari Bukittinggi ke Kota Solok, sedangkan beliau dari Bukittinggi ke Sumani.

Kalian tahu apa pekerjaan beliau??? Beliau adalah seorang pengemis. Bayangkan. Beliau seorang pengemis dan tidak sungkan mengatakan itu kepada W. W melihat dia sebagai seorang nenek-nenek yang cukup sehat. Beliau kehilangan anak beliau (meninggal dunia). Katanya dia tinggal bersama dua orang cucu laki-laki yang masih sekolah. Dua-duanya butuh biaya. Suami dari anak nenek ini sudah pergi meninggalkan rumah dan menikah lagi. Entah dimana beliau sekarang. Anak-anak beliau yang lain sudah merantau dan berada sangat jauh. Nama beliau, Sarinah. W memanggilnya dengan sebutan Amak. Jadilah Mak Sarinah.
Ketika W tanya, kenapa tidak bekerja saja sebagai penjual hasil kebun? Beliau menjawab, tidak bisa karena sudah tidak punya cukup tenaga. Dulu pernah berjualan daun apa gitu. Tapi sekarang sudah tidak kuat karena kaki beliau sering sakit.

Dalam dunia ngemis-mengemis, ternyata ada syirik-syirikan. Sesekali ada yang marah jika tempat mereka di tempati oleh orang lain. Nah, si nenek ini mengemis tidak di tempat yang sama. Dalam seminggu bisa berbeda tempat. Bisa ke Bukittinggi, Padang Panjang, Batu Sangkar dan beberpa tempat lain. Beliau memilih pasar atau kadang-kadang rumah sakit atau di depan rumah makan. Mengenai Pol PP, mereka akan lari jika ada pembersihan.

Ngomong-ngomong soal pengemis, kenapa bisa ada banyak sekali pengemis disini. Mereka tidak hanya lansia, tapi dari segala jenis usia. Bayangkan, W sebagai pengusaha kuliner (asssek.!!) Bisa di bilang hampir didatangi banyak pengemis, bisa lima sampai tujuh pengemis datang ke warung W setiap hari dengan berbagai alasan. Nggak Cuma tempat makan, di rumahpun sama. Dan W hampir hafal muka-muka mereka.

Haduuu... Duniiaaa..

Jika naik Bus, ada banyak sekali anak-anak yang mengaku fakir miskin dengan modal kertas kopian dan sedikit memelas. Mereka datang dari berbagai tempat. Mungkin sama dengan Mak Sarinah tadi.

Bukankah pemerintah sudah memiliki banyak program untuk mengurangi ini?

Di Bukittinggi malah lebih ngenes. PENGEMIS KAYA PENIPU.!!!
Ada tuh, si sumbing di Jam Gadang. Pura-pura nggak bisa ngapa-ngapain, pura-pura lemah dan tak berdaya di pangkuan sang ibu, padahal badannya kuat sekali. Bisa lari-larian dan berantem sama orang yang suka buka kedoknya.

Teman W, si Dina, pernah ngobrol sama Satpol PP di Jam Gadang perihal pengemis ini. Merkea di tangkap dan di masukan ke panti sosial untuk di beri pelatihan dan perhatian khusus, tapi mereka lari. Pernah juga ada yang nawarin peminta-minta yang datang kerumah untuk bekerja di ladang, tapi di tolak mentah-mentah. Mereka mendapat banyak penghasilan dari mengemis dari pada bantuan pemerintah di panti sosial atau lowongan pekerjaan dari orang lain. Mengemis lebih gampang dan mudah. Modal jalan, ember dan karung doang.

Mungkin dimana-mana hapir sama persoalannya. Daerah Ombilin, dulu waktu Om W bekerja sebagai penagih kredit barang-barang elektronik. Beliau pernah punya klien pengemis. Mereka mengambil bayak barang elektronik yang bagus. Heem, entah bagaimana persoalan mental masyarakat Indonesia.

Jika dari anakan saja sudah diajak untuk mengemis, bagaimana jika mereka dewasa nanti?

Menurut W solusinya adalah dengan mengeluarkan peraturan tidak boleh mengemis dari pemerintah daerah seperti yang pernah W lihat di Boyolali. W pernah baca pengumuman di depan rumah warga yang ada di Boyolali. Dilarang mengemis dan mengamen disini tanpa izin lurah, apa RT apa RW gitu, W lupa. Pokoknya gitu lah. Dan bener, nggak ada orang yang datang mengamen maupun mengemis di sana.

W ingin di semua tempat di terapkan  itu. Jadi orang yang meminta bantuan adalah orang yang benar-benar membutuhkan dan punya legalitas. Misal dari panti asuhan mana gitu. Atau dari masjid mana. Ada peraturan yang jelas untuk ini. W pegen banget ngomongin ini ke Wali Kota Solok. Tapi kesempatannya belum ada. Dan W belum merancang itu semua dengan matang.


Semoga kalian yang baca blog W, di manapun berada bisa bantu lebih dari sekedar wacana seperti yang W lakukan. Aamiin.

Senin, 07 Maret 2016

Laiang Park






Laiang Park merupakan salah satu tempat wisata di Kota Solok. Masyarakat sering menyebutnya rumah pohon. Dari Pusat kota perjalan bisa ditempuh kira-kira dua puluh menit. Untuk masuk, tidak di perlukan tiket. Kita hanya perlu membayar parkir. Rp. 3.000., untuk motor dan Rp. 5.000., untuk mobil. Di Laiang Park juga tersedia ayunan, jungkat jungkit dan beberapa permaianan outbond serta gazebo-gazebo untuk beristirahat dan makan. Fling Fox salah satunya. Untuk menggunakan wahana ini, kita harus membayar Rp. 15.000/ orang. Flying Fox tidak ada setiap hari. Hanya ada di hari libur dan weekend.






PULAU (Pamutusan & Pasumpahan)

Kami pergi ke dua pulau ini. Yang awalnya empat pulau (PAGANG, PAMUTUSAN, PASUMPAHAN, SWARNADWIPA) malah jadi dua pulau. Terjadi misscommunication.
Nggak papa. Cukup menyenangkan dan mengasyikan. Secara, akhirnya W ke Pulau juga setelah lama memendam rasa. Ajjiah. Hahaha.
Pamer foto-fotonya dulu yah.! :D




W pengen banget maen ke Pulau. Tapi belom pernah kesampaian. W pernah ngajakin monyet, tapi nggak seru kalau cuma kita berdua aja.
Karna Monyet bilang dia ketemu Melbi dan Rian, Ide Aha Muncul di Kepala W. Gimana kalau ajak mereka juga, kan bisa jadi rame.
W salah! Ternyata Rian udah balik ke Semarang. Heem, ngajakin Monic, Monic nggak bisa. Akhirnya Melbi bilang ajakin temen-temen yang lain aja. Dan, yap.! Kita mengajak siapa saja yang bisa ikut.
Lumayan rame, ada Kak Ipit dan Mahasiswanya. Fidia dan Nanda adik laki-lakinya. Melbi dengan 2 temannya, plus W, si Monyet dan Riski.
***

Kami bertiga dari Solok. Jam setengah enam udah standby. Rizki jemput W kerumah. Si Monyet langsung ke BRI Cabang Kota Solok [Kita ketemuan disini]. Dari BRI Cabang, kita berjalan kaki menuju Simpang Surya untuk naik Bus Jasa Malindo [Kalau Subuh sampai jam enaman, Bus yang mau berangkat ke Padang mangkalnya di Simpang Surya].
Cuma bertiga doang penumpangnya, Busnya berasa milik kita. Ayea.!

Bela-bela'in berangkat subuh

***
PADANG
Kira-kira setengah delapan kami udah di Padang. Ketemu Melbi dan sarapan.

Faktanya:

1.       W dan Rizki udah minum susu dan makan roti sebelom berangkat ke Padang
2.       Amel si Monyet juga udah sarapan di rumahnya.
3.       W udah ingetin Melbi untuk makan dulu sebelum  berangkat. Tapi nggak dilakukan.
Okay. Akhirnya di putuskan untuk sarapan di warung terdekat.

Fakta lain:

Jam setengah enam pagi Si Melbi nelpon W ngabari dia telat bangun. Nanyain W udah sarapan apa belom. Bilang kalau kami belom/ nggak sempat sarapan, dia bakal traktir kami nasi uduk. Dan yanag terjadi adalah: “ Sesampainya di Padang, Kami (kecuali W karna masih kenyang) sarapan lontong gulai yang dicampur mie. Dan taukah kalian??? Si Monyet yang bayar-Nggak ada traktiran dari Melbi”
Ahahahahaha. Sorry Bi, ini faktanya. Toh, blog ini nggak memiliki banyak pembaca. So, nggak ada yang tau juga yang dimaksud orang yang mana. Ahahahahaha.
Dan satu lagi.! Abi nggak salah. Kan kami semua udah sarapan sebelum berangkat. Yang dimakan juga bukan NASI UDUK, tapi LONTONG GULAI.
***
Fidia telat bangun. Kak Ipit ngabari kalau nggak jadi berangkat bareng Fidi, tapi bareng mahasiswanya aja.
Kira-kira jam sembilanan Fidi sampai di tempat kami sarapan. W, Amel dan Rizki naik ke mobil Fidi untuk meneruskan perjalanan ke kantornya Kaffah Tour dan Travel yang teletak di Penggambiran (Kami menggunakan jasa agen perjalanan). Melbi menggunakan motornya.
Sesampai disana, kami langsung ngedrop semua perlengkapan. Next go to Bunguih ( 1 mobil, 2 motor). Kak Ipit dan rombongan udah menunggu di Bunguih.

Kami naik perahu kecil dari Bunguih menuju pulau-pulau yang kami kunjungi. Perjalanan dr Bunguih menuju tempat mangkalnya kapal luar biasa terjal dan mendaki. Kiri kanan rata-rata kebun pisang. Pisangnya lagii berbuuuaaaahh... Love-love muncul di mata monyet.
Satu persatu kami menaiki perahu setelah mengenakan pelampung dengan baik dan benar.

Kami adalah pelanggan pertama yang menggunakan jasa Kaffah Tour untuk trip pulau. Semua baru dan terbarukan.!  

Sebagian


PAMUTUSAN. Adalah pulau pertama yang kami kunjungi. Perjalanan sekitar 30 menitan. Disini kami makan siang dan melakukan snorkling.
Setelah puas bermain disini, perjalanan kami lanjutkan ke Pasumpahan.
Di Pulau Pasumpahan ini biasnaya para penikmat pulau melakukan camp. Disini sudah tersedia tenda-tenda dan rumah-rumah kecil untuk menginap. Disini juga ada tempat bermain bola, ayunan, kamar mandi (sebenarnya sama aja sama yang ada di Pamutusan, di Pamutusan malah ada tempat karaokenya. Bedanya adalah di Pamutusan tidak disediakan tempat menginap).

Ah iya. Perbedaan lain, di Pasumpahan kita bisa melakukan trekking menuju puncak pulau. Untuk sampai di puncak, kita mesti mendaki selama beberapa menit. Tenang, tidak terlalu terjal, tapi lumayan menanjak! #EhApa-apa’anKalimatnya -_-“. Nggak usah khawatir. Sudah disediakan tali.
Kami menuju Puncak Pasumpahan. Kecuali Kak Ipit dan satu mahasiswa laki-lakinya. Kak Ipit takut untuk melakukan trekking. Akhirnya Kakak bersama seorang mahasiswa laki-lakinya bermain jetsky. Untuk menggunakan jetsky, kita harus meronggoh kocek Rp.150.000/10 meniit.

Nih, jalur trekking di Pasumpahan








Sudah hampir jam 5. Kami memutuskan untuk turun, membersihkan diri, shalat asar, istirahat dan mengobrol sebentar kemudian kembali pulang.


Perjalanan Pulang-Masih Sempat Berfoto Sebelum Didatangi Ombak Besar


Sayang, perjalanan pulang tak semulus perjalanan pergi. Hari sudah sore. Air mulai pasang dan ombak besar. W luar biasa takut. Yang awalnya duduk di pinggir kapal, pindah ketengah untuk berlindung dari air yang melompat-lompat masuk kapal, menghindari ombak yang semena-mena menggoda kami, membasahi.
Sumpah. W KETAKUTAN.!  Secara W pernah tenggelam dalam lautan. Ahahahaha. Para awak kapal yang mulai mengeluarkan air dari dalam kapal membuat suasana semakin mencekam.
Tepaksa si Melbi W jadikan tumbal cengkraman, habisnya si Monyet ninggalin W demi mabuk yang tak tertahankan.
Alhamdulillahnya kita selamat. Sampai Bunguih kembali jam 7’an. Di Bunguih, Kak Ipit dan rombongan langsung pamit karena kami tidak searah.
***

Sebenarnya Amel, W dan Rizki belum benar-benar selamat karena Bunguih macet. Macet yang sangat panjang. Kami sampai di Penggambiran jam setengah sembilan. Setelah berpamitan dengan Fidi dan Nanda, W Amel Rizki diantar Rian Dani dan Abi mencari bus atau travel untuk pulang.
Malangnya, tidak ada lagi kendaraan umum menuju Kota Solok. Rian lebih ngenes. Hari itu ada pertandingan bola, waktu itu Semen Padang yang main -_-. Maafkan kami Rian.
Tanpa babibu setelah menunggu beberapa jam, kami putuskan langsung ke Solok.

Taukah bagaimana ending perjalanan ini? Endingnya sangat-sangat luar bisa.!
1.       Kami akhirnya pulang ke Solok di antar menggunakan 3 motor dengan pakaian seadanya (tanpa jaket) dan para penumpang tidak menggunakan helem. (Bayangkan betapa dinginnya Kabupaten Solok). Refleks pulang pake motor tanpa persiapan.
2.       Kami sampai di Kota tengah malam. Beruntung Rizki mentraktir kami nasi goreng depan BRI Cabang.
3.       Para pengendara kembali ke Padang dini hari. Dani terlalu keras kepala.! Dia kekeuh balik, padahal W dan Rizki udah nawarin untuk nginap di rumah kami. [Sebenarnya Dani nggak salah. Pertama, Dani berangkat tidak siap. Benar-benar tanpa persiapan apa pun. Tanpa SIM, STNK dan KTP. Terlalu berbahaya jika balik pagi/ siang hari. Kedua, barang-barang dan perlengkapan yang kami gunakan belom dibereskan.

Saran W untuk para pengunjung Pulau, jika tidak melakukan camp, sebaiknya balik sebelum jam 5 sore. Karena semakin sore, air laut semakin pasang. Apalagi kalau terang bulan, ombak dilautan pasti besar.

Dua hari kemudian, W baca berita anak hilang terbawa ombak di hari kami melakukan perjalanan. Dia hilang di Pantai cermin. Ditemukan keesokan harinya oleh nelayan. Bisa jadi kejadian ini menjadi salah satu penyebab ombak besar waktu itu. Entahlah. Semua rahasia Allah. Manusia seperti W hanya bisa menerka-nerka saja.


Well, selamat melakukan perjalanan. Selamat mengeksplor negeri. Selamat menikmati keindahan Indonesia. ^_^

Selasa, 09 Februari 2016

Sebuah Rencana.! Perjalanan Tak Terencana.!

Harusnya kemarin (Minggu,7 Februari 2016) kami [Wara, Rizky, Oza, Rofi dan Melbi] jalan-jalan ke Puncak Gagoan. Tapi di jalan..? Hahahaha
Perjalanannya sesuatu banget. Apa yang kita lakukan? Just muter-muter alias ngelilingin Danau Singkarak sambil mandi. What?! Sambil mandi????
Iya.! 
Mandi hujan.!
Sepenjang jalan kita kehujanan.
Hem! Perjalanan yang luar biasa bukan??


Okay, W akan cerita. Tapi nggak detail ya...
Gini, sekarang kan libur panjang karna senin ini Imlekan. Si Melbi pulang kampung bawa temannya yang dari Jember.
Nah, W dengan santainya bilang “Bawak lah teman Abi jalan-jalan muter-muter Solok, ke Puncak Gagoan udah blom?”

Bener aja, ternyata tu orang belom pernah kesana. Diajaknya lah si Rizki. Berhubung libur, Rizki ya mau aja. Karna W nggak bisa Sabtu, di putuskanlah kita berangkat Minggu.


Cuaca Minggu nggak banget. Hujannya galau dan awet.! Dari pagi nggak berhenti-berhenti, kadang hujan lebat, gerimis lebaat, berhenti sebentar, terus hujan lagi. Siklusnya gitu-gitu aja.
Nah, Si Melbi kayaknya niat banget bawa temennya ini ke Puncak Gagoan. Siang dia udah hubungi W bilang kalau di Singkarak nggak hujan. Terus, nyuruh W dan Rizki siap-siap segera. Karena kalau hujan sudah berhenti, kita bisa langsung pergi menuju Pasar Sumani.
Tapi hujannya nggak berhenti-benti. Sepertinya hujan lokal terjadi.


Pasaar Sumani adalah tiitk temu kami. W dan Rizki berangkat dari Kota Solok. Melbi, Oza dan Rofi berangkat dari Singkarak. Kami akan bertemu di Pasar Sumani.

Sebelum Asar hujan mulai menjauhi bumi. Jauthnya satu-satu dan sangat halus. W minta ke Rizki supaya kita langsung pergi dan Asar di jalan aja, tapi Rizki bilang Shalat Asar dulu di rumah. Akhirnya kita nunggu Asar dulu baru berangkat.

Setelah Asar, Rizki jemput W kerumah.
Hujan sepertinya enggan meninggalkan bumi. Mereka kembali, satu persatu turun membasahi.
W menelpon Melbi, memastikan cuaca disana kemudian memberikan telpon kepada Rizki supaya Rizki tahu juga situasi disana. Keputusan sudah di ambil, kami [Wara & Rizki] berangkat dari Kota Solok menuju Pasar Sumani.

Sesampainya di Sumani, kami tidak melihat tanda-tanda adanya Melbi dan pasukan. W pun sms Melbi memberi tahu kalau kami sudah menunggu. Sembari menunggu Melbi, W liat tempat ice di minimarket. W jadi ingat iklan paddle pop baru yang icy float. Pengen makan ituuuu.. W ngajakin Rizki untuk beli ice.
Wah.! Kacau ni W.! Masa hari dingin ngajakin Rizki beli Ice.!
W pwengeeeeenn nyobain paddle pop icy float...
Eh, ternyata kosong. Nggak ada ice nya. Ya udah! W bli ice lain aja.

Lho?! Bukannya Wara alergi dingin?! Kalau tiba-tiba alerginya datang gimana? Stock obat nggak ada lagi kan??? Habis di perjalanan ke Batam kemaren! Hayoooo???
Bapak bilang, obat dingin adalah dingin itu sendiri.
So, W beli ice aja biar alergi W nggak kumat (Rasionalisasi).
Kan brabe kalau tiba-tiba gatal seluruh badan.
Eh bener lho! Alergi W nggak muncul selama perjalanan! Alhamdulillah.


Lagi asyik nyari ice, Si Melbi dan pasukannya muncul. Dia meyakinkan untuk tetap ke Puncak Gagoan. Menghadang hujan kita lakukan perjalanan.

“Maaajuuuu tak gentaaarrrr”

Liat pemandangan sambil hujan-hujanan. Viewnya bagus, danau, sawah-sawah, perbukitan, ladang-ladang, nature baget dah! Tapi terhalang hujan. Hahahaha.

Sayang hujannya tetap galau! Kadang sedikit mereda, kadang deras tiba-tiba.

Ha! Mungkin karna Si Monyet nggak ikut, alam jadi tidak merestui keberangkatan kami.


Saat sedikit lagi sampai di hidung Gagoan, tiba-tiba Polisi datang mengingatkan kami. Beliau bilang cuaca kurang bagus. Mending nggak usah kesana. Jalan licin. Takutnya terjadi apa-apa.


Sepertinya memang bukan saatnya.
Kita balik kanan.

Belom berencana pulang, kami melewati jalan yang berbeda.
“M-U-T-E-R-I-N-D-A-N-A-U”

Tidak satupun dari kami yang pernah melewati jalan ini. Kalau tersesat ya tersesat bersama. Hahaha. Kami melewati Malalo, Sumpur, Batipuah dan apa itu lagi naman daerahnya, W lupa.
Karna nggak kunjung menemukan jalan lintas, W akhirnya nelpon Puja.
Puja bilang lurus aja, ntar keluar di Batu Taba.
Yap. Alhamdulillah kami tidak tersesat. Kami berhasil keluar dan menemukan jalan besar.! Yeeeaaaayyyy.!!!

Karena sudah magrib, kami mencari Mesjid. Mesjid pertama agak menjorok ke dalam, toiletnya mengerikan. W takut.
Secara W cewe sendiri, tempatnya sepi dan nggak ada yang nemani W wudhu. Akhirnya w minta pindah mesjid. Kita berhenti di mesjid berikutnya. Mesjid apa ya namanya,, W lupa! Mesjid Raya Batu Taba kali ya. Disini kita shalat.

Selesai shalat, kita nunggu hujannya sedikit mereda. Beberapa menit kemudian kita jalan lagi. Nyampe ombilin Rizki nemu rumah makan. W lupa nama Rumah Makannya [Dasar Wara Pelupa!-_-]. Kita makan disana. W dan Melbi makan Pangek Ikan Sasau (Kepala Ikan! Yeay!), yang lain Gulai Ayam; Aneh memang, jelas main ke Danau, tapi yang di pesan tetep Ayam -_- Selera orang memang berbeda-beda.

Lezaat. Entah karna lapar atau memang makanannya yang enak. I dont know.! Hahaha.
Tapi menurut lidah W “ENAK”. Dan memang teman-teman lain makan sampe nasinya ludeess. Luaarrrr biasa...
Mana tepuk tangannya??? Prok.. prok.. prok..

Setelah kenyang dan tubuh mulai hangat, kita kembali melanjutkan perjalanan pulang. Mampir sebentar di rumah Melbi, terus lanjut lagiiii... [ke RUMAH MASING-MASING].


Benar-benar lah Si Melbi.!
Bawa kita ke jalan berbatu panjang dan tiada batas dan harus di buang ketempat jauh disanaaaaa... ayo bangkitlah pahlawan-Eh! Kok malah nyanyi -_-“

Begitu lah! Keliling Danau-Perjalanan yang tidak direncanakan!

TEMAN LAMA [Mengingat Masa2 SMA]


W punya banyak temen deket. Yang deket banget ya Si Monyet. Hari-hari W hampir di isi dengan kabar dari dia. Suatu hari si Monyet ngabari W kalau dia ketemu Melbi di acara nikahan anak Bu Eli (Guru Biologi SMA)-Kak Oren! [Sumpah W kesel nggak diundang kakak! Mungkin karna W jarang buka FB, jadi nggak tahu kalau ada undangan].

Minggu berikutnya dia ngabari W lagi, katanya Melbi ngajak ketemuan di 88 (tempat nongkrong siswa SMA, ada Rian juga). W nggak bisa pergi karna waktu itu lagi Dinas Luar Kota. Minggu depannya W dapat kabar lagi kalau Melbi mau nraktir kita.
W sih mau-mau aja ikut, tapi W lagi ada urusan keluarga. Kakak W mau nikahan! So, W nggak bisa pastiin bisa pergi apa enggak (Sok banget ya gaya W).

Yeay.! W bisa ikut. Akhirnya kita putuskan untuk ketemuan sore jam 4. Ada W, Si Monyet, Monic dan Melbi. Singkat cerita kita ke Vangeluk. Eh, sebelum nyampe Vangeluk, Si Monic lompat dulu dari motor. Hahaha.
Kita dengan PD nya pergi tanpa helm. Tau-tau di Simpang Dempal ada Polisi. W yang boncengan sama Monyet bilang; “Polisi Nyet.! Polisi!” W juga teriak ke Melbi dan Monic “Bi, Polisi! Polisi Nic!
Eh, Monic malah loncat dari Motor yang sedang di kendarai Melbi terus lari-lari ke arah W dan Si Monyet. Bikin ngakak banget lah kejadian ini. Sorry W nggak bisa mendesripsikannya dengan baik.

Next, kita ambil helm kerumah dan berangkat ke Vangeluk.
Vangeluk

Di Vangeluk kita pesan berbagai hal. W lupa apa aja, yang jelas monic pesan makanan, yang lain minum doang. Disana kita cerita banyak hal. Tentang teman-teman SMA dan berbagi kabar sambil foto-fotoan.
Si Monic yang “katanya” nggak boleh pulang malam mulai was-was. W, Si Monyet dan Melbi terus ngelobi. Akhirnya kita shalat magrib di Vangeluk. Melbi yang imamin kita. Baru deh pulang.
Nyampe teras Vangeluk malah ketemu Afrizal. Ngobrol seru lagi deh. Afrizal iu lucu. Manusia Unic lah. Dan cocok standup. Ketawaketiwi hahaheheh dulu. Lebih kurang 15 menitan lah kita ngobrol sambil berdiri aja di terasnya Vangeluk. And than, back home.



Melbi-W-Monic-Monyet-Afrizal

Amelia Sary Handayani
Alias Monyet.
Sahabatan dari SD.
Supel.
Gaul.
Gampang berteman.
Punya semangat tinggi.
Memiliki Motivasi yang baik.
Saat ini sedang merantau ke Jakarta.
Katanya mau cari kerja sambil jagain Zizi anaknya.

Monica Theresia
Tetanggan sama W.
Kita temanan dari SMP.
Saat ini sedang S2 di UNP sambil kerja sebagai tenaga pengajar di sebuah Bimbel.
Pengennya segera nikah aja. Hahahaha.
Over Make Up (banyak teman yang komplain karna ini -_- hahahaha lagi)
Suka cocokin warna mulai dari warna pakaian, jilbab, tas, sampe sepatu (Misal ni ya-Biru-Biru semua dari atas sampe bawah). Fasionable lah!

Melbi Mahardika
Dua tahun satu kelas (Kelas XI & XII).
Sepertinya suka "Minder" (zaman-zaman SMA).
Anaknya Pak Liswardi (Guru KWN SMA).
Sering di Bully (khususnya sama temen-temen cewe-MONIC apalagi!).
Sering kena fitnah (Nilai bagus karna deket sama guru/ karna anak Pak Liswardi) Hahaha.
Pertama kali ngomong sama dia di Perpustakaan (Waktu itu W mau minjem buku yang lagi dia pegang).
Mulai deket sejak Ujian MID (Bersimbiosis Mutualisme).
Sejak lulus SMA, kita nggk pernah komunikasi lagi.
Ketemu dan ngobrol kembali sejak 16 Januari 2016.
Saat ini kuliah Program PMDSU DIKTI di UNAND.

Afrizal
Aktif Pramuka.
Memiliki suara yang bagus.
Pernah mengikuti seleksi akademi dangdut (Zaman-zaman KDI).
Sekarang berkerja sebagai Pegawai TU di SMP N 6 Kota Solok dan Kuliah Program Magister di UNP.
Nggak begitu deket sama W.
Lumayan sering ketemu kalau lagi di Solok.


Nah W???!
"Pengangguran yang banyak acara!"
Gimana nggak banyak, seringnya keluar kota dan ada aja acaranya.!
Yang jelas, aktivitas W saat ini:
"MELAKUKAN APA YANG BISA DILAKUKAN DAN MENYELESAIKAN APA YANG HARUS DISELESAIKAN"

Sabtu, 12 Desember 2015

"GRADUATION"




Flashback dulu ya... ^_^


8 Maret 2015

Hari dimana W di wisuda. Terimakasih buat temen-temen yang udah nyempatin dateng dan ngasih hadiah ke W. W seneng banget. Terimakasih telah peduli dan telah ada meski W nggak punya banyak waktu untuk kita.


KELUARGA itu pasti. ^_^
W selalu bangga punya kita.!



Terimakasih ucapan dan do’a-do’a nya saudarakuuuuu…

Terharu.!


Rizki Faluvi Hendra, terimakasih telah datang dan menepati janji kamu. Kamu teman pertama yang ketemu aku [excpt: teman-teman yang di wisuda]. Makasih juga udah mau aku repotin di hari yang terik dan di tengah kerjaan kantor yang menumpuk.



Rahmira Fadri, Wefni Azlen dan Yogi, Terharu bangeeet Raaaaa,,, Ira yang nyempatin datang, padahal ada hal yang harus diselesaikan di Batu Kambing. Avi juga, udah repot-repot bareng Ira ngasih kado, padahal jauh banget di Jakarta sana. Kapan kita ketemu lagi ya..???
Seli, terimakasih do’a nya. Tari, kita berada di barisan yang sama kan..? :D Lucy dan Yola, Wara tau, selalu ada do’a untuk Wara.
Sukses untuk kita semua.!! Ayea.!!!





Kawan-kawan Komunitas Tubuh Jendela, terimakasih untuk kebersamaan kita. Kue ulang tahun TJ dan keceriaan. Maaf tak bisa menemani terlalu lama.





Dinda Ojik, guys, makasiiii. Kebersamaan kita, kelucuan kalin tak terlupa. Makasih hadiahnya, Mbak suka :D



Bang Fauzi Rahman, Makin endut aja bang. Hehehe. Makasih buat coklatnya. Ye.. Ye.. Ye..
Silahkan lihat perbedaannya di tahun itu dan di tahun ini. Hahahaha

Tahun Itu (2012)


3 Tahun Kemudian (2015)

Puja’s Friends, Adek-adek yang ganteng, terimakasih bunganya. W paling seneng liat wajahnya Yeri. Serasa liat kartun anime. Wajahnya petak-petak gimana gitu. Mungkin ini imajinasi W aja. Hahaha. Amek, Wardiansyah, Bayu, thax. Maaf kalau ada yang kelupaan nyebutnya. Eh, terimakasih juga telah mau direpotkan, kontrakannya diacak-acak dan dibikin heboh. Uci, terimakasaih kuenya yang jauh diantar dari Padang Panjang. Hahaha. Apa itu namanya? Panyaram ya??? Hihihihi



Family Psikologi UNP dan My Q’mi, yang pasti, kebersamaan kita tak akan terlupa.



Tidak bisa disebutkan satu persatu, itu kenapa akhirnya W memilih untuk bikin kalimat simple pada halaman persembahan skripsi.

Oja, Zizah, Mak'Ila, Wara, Ayu, Ayuk


Amelia Sofyan, sahabat W sedari SD. My Lovely Monkey. Meski nggak bisa dateng, disempatkan dateng di acara yudisium W 11 Maret 2015. Makasih udah jauh-jauh datang dari Padang sana bareng si Olong. Sampe jalan kaki beberapa kilo akibat W salah paham sama posisi lo. Hahahaha. Thx buat silhuet nya.. You so.. Ha.! Ha.! Ha.!



Kak Fitri Meilida, kakak terbaik yang Wara punya. Kakak yang selalu pengertian, kakak yan selalu paham. Terimakasih telah menampung banyak cerita Wara kaaak. Maaf nggak bisa menemani kakak untuk waktu yang lama. Terimakasih pelajaran berharga yang udah kakak berikan. ^_^

Kejutaaaaan.!!!!


Kak Dira Yunda, Hey.! Kakak ini mengagetkan dengan bunganya. Hehehehe... Makasiiii kakakaaak...


Terimakasih untuk semua yang selalu support Wara, menyemangati Wara, yang selalu bantu Wara dan do’ain Wara.
TERIMAKASIH TAK TERHINGGA ^_^


Hadiah Wisuda
Hadiah Waktu Yudisium



Req W ke Tante. Hahaha

Ada beberapa hadiah wisuda yang memang sengaja Wara request dari orang-orang tertentu:
1. Sendal Oshin [Tante Nike]
2. Flashdisk [Puja]
3. Frame Photo [Yoyel]
4. Dopet [Chipa]
5. Dunia [FMS]

Mereka semua menepati janji dan memberikannya untuk Wara. Horrrraaay.!!!! \(^_^)/

Kenapa cuma hadiah dari tante yang Wara pamerkan?

Karena tante sering komplen kalau hadiahnya nggak di pajang.!!!